
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mendorong inovasi digitalisasi dalam sistem pembayaran pajak daerah untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus mewujudkan kemandirian fiskal pemerintah daerah.
Tito menjelaskan sistem pembayaran tersebut dirancang terintegrasi secara online dan memiliki mekanisme yang menyerupai sistem pembayaran digital QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia.
Menurutnya, sistem tersebut nantinya dapat terkoneksi dengan seluruh pemerintah daerah sehingga pembayaran pajak bisa langsung masuk ke rekening dinas pendapatan daerah.
“Kalau yang nasionalnya, saya sudah bicara dengan Gubernur BI. Beliau membuat sistem seperti QRIS itu, tapi online supaya nanti bisa di-connect dengan semua pemerintah daerah, sehingga bisa masuk langsung ke Dispenda,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Senin, 9 Maret 2026.
Ia menegaskan peningkatan PAD tidak dilakukan dengan menambah jenis pajak baru bagi masyarakat. Tito menjelaskan selama ini konsumen sebenarnya sudah membayar pajak saat melakukan transaksi di hotel, restoran, maupun kafe.
Namun, pajak tersebut terlebih dahulu dikumpulkan oleh pelaku usaha sebagai kolektor sebelum disetorkan ke pemerintah daerah.
“Pertanyaannya, apakah uang itu disampaikan ke Dispenda sama dengan yang dikumpulkan?” kata Tito.
Melalui sistem pembayaran digital yang terintegrasi secara online tersebut, ia berharap pajak yang dibayarkan konsumen dapat langsung masuk ke rekening pemerintah daerah tanpa harus melalui pengumpulan oleh pemilik usaha.
Menurut Tito, langkah tersebut berpotensi mencegah kebocoran pendapatan sekaligus meningkatkan PAD secara signifikan.
Ia juga mencontohkan keberhasilan Kabupaten Badung yang mampu mencapai kemandirian fiskal berkat tingginya PAD dari sektor hospitality seperti hotel dan restoran.
Dalam kesempatan itu, Tito menilai potensi serupa dapat dikembangkan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, khususnya di kawasan Batam, Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun.
Menurutnya, wilayah tersebut memiliki industri hospitality yang kuat dan berpotensi dikembangkan sebagai destinasi MICE berskala nasional bersama kota-kota besar lain seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, dan Surabaya.
“Intinya, tidak bocor, PAD akan kuat sehingga daerah bisa mandiri secara fiskal,” ucap Tito.
Editor: Redaktur TVRINews
