
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar (TVRINews/HO-Kemenko PM)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Bandung
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar menegaskan pentingnya peran filantropi sebagai mitra strategis pemerintah dalam upaya menurunkan angka kemiskinan dan memperkuat pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Muhaimin saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Rumah Zakat di Bandung, Jawa Barat, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menyampaikan bahwa mandat Presiden melalui Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai agenda utama pembangunan nasional.
"Pemberdayaan bukan hanya program, tetapi cara pandang dan pendekatan. Penanggulangan kemiskinan harus bersifat jangka panjang dan lintas generasi, bukan sesaat," kata Muhaimin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 20 Januari 2026.
Menurut Muhaimin, Kemenko PM hadir untuk mengorkestrasi kolaborasi antara pemerintah dan filantropi agar berjalan searah dan saling melengkapi.
Filantropi didorong berkontribusi sesuai kapasitas dan keunggulan masing-masing, mulai dari pemberdayaan ekonomi hingga penanganan bencana dan penyediaan hunian sementara bagi masyarakat terdampak.
Muhaimin mengakui tantangan penurunan kemiskinan semakin kompleks, terlebih dengan target penghapusan kemiskinan ekstrem pada 2026 dan penurunan tingkat kemiskinan nasional hingga maksimal 5 persen pada 2029. Kondisi tersebut diperberat oleh berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah.
"Di sinilah peran filantropi menjadi sangat penting. Apa yang dilakukan Rumah Zakat dan filantropi lainnya harus meletakkan semangat pemberdayaan sebagai strategi utama mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Kemudian, ia juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis data melalui penguatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Muhaimin membuka ruang sinergi antara data pemerintah dan data filantropi yang dinilai memiliki kedekatan dengan kondisi riil masyarakat, sehingga penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
"Tahun 2026 kita dorong semua pihak aktif dan berdampak. Bukan soal besar kecilnya dana, tetapi seberapa tepat sasaran dan berkelanjutan," ucapnya.
Dalam konteks penanggulangan bencana, Muhaimin menekankan pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menjadi momentum evaluasi dan perbaikan strategi pembangunan melalui program-program pemberdayaan, seperti padat karya, penguatan UMKM, dan kewirausahaan.
Rakernas Rumah Zakat dinilai sebagai ruang strategis untuk menyatukan praktik baik, inovasi, dan pengalaman filantropi dalam mendukung agenda besar pemberdayaan nasional demi kesejahteraan masyarakat.
Editor: Redaksi TVRINews
