
Foto: TVRINews/HO-Kemenbud
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Kuningan
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, untuk meninjau situs bersejarah serta memperkuat komitmen pemerintah dalam memajukan ekosistem kebudayaan nasional.
Dalam agenda tersebut, Menbud meninjau langsung dua lokasi bersejarah, yakni Museum Gedung Perundingan Linggarjati dan Gedung Sjahrir.
Selain meninjau fisik bangunan, Fadli Zon juga menggelar sarasehan budaya bersama para pelaku seni dan budaya se-Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan).

Foto: TVRINews/HO-Kemenbud
Saat berada di Museum Gedung Perundingan Linggarjati, Fadli Zon menekankan pentingnya modernisasi tata pamer agar sejarah tetap relevan bagi generasi muda.
Ia mengusulkan penggunaan teknologi mutakhir untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi pengunjung.
“Kita perlu memperkuat sentuhan digital, seperti penggunaan rekaman arsip asli, animasi jalannya perundingan, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menghidupkan foto-foto lama. Dengan pendekatan ini, sejarah tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih imersif,” ujar Fadli Zon.
Menbud menjelaskan, Linggarjati adalah saksi bisu langkah strategis diplomasi Indonesia pada 1946. Meski hasil perundingan sempat menuai pro-kontra terkait luas wilayah kedaulatan, ia menilai langkah tersebut adalah strategi taktis para pendiri bangsa untuk mendapatkan pengakuan internasional.
Tak jauh dari lokasi utama, Menbud juga menyambangi Gedung Sjahrir yang menjadi tempat peristirahatan para delegasi selama perundingan berlangsung.
“Tempat ini saksi interaksi antara delegasi Indonesia, Belanda, hingga mediator Inggris dan jurnalis internasional. Nilai historisnya sangat tinggi,” tambahnya.
*Budaya Sebagai Hulu Ekonomi Kreatif*
Dalam sesi sarasehan bersama seniman lintas bidang (film, musik, sastra, dan seni pertunjukan), Fadli Zon menegaskan posisi strategis kebudayaan terhadap ekonomi kreatif.
Ia menyebut kebudayaan adalah pondasi utama atau sektor 'hulu', sementara ekonomi kreatif berada di sektor 'hilir'.
"Fondasi industri kreatif adalah budaya. Karena itu, kita tidak hanya bertugas melindungi dan melestarikan, tetapi juga memastikan kebudayaan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti status Indonesia sebagai negara megadiversity budaya. Menurutnya, keragaman yang luar biasa ini merupakan sumber daya strategis yang bisa membawa Indonesia bersaing di industri budaya global.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi momentum peningkatan kualitas pengelolaan cagar budaya sekaligus mempererat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku budaya demi kemajuan kebudayaan nasional.
Editor: Redaktur TVRINews
