
Kemenhaj Dorong Penggunaan Beras Lokal untuk Konsumsi Jemaah Haji
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kementerian Haji dan Umrah RI mulai melakukan langkah konkret untuk mewujudkan kemandirian pangan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Salah satunya dengan memprioritaskan penggunaan beras produksi dalam negeri untuk konsumsi jemaah haji Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan beras dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Perum Bulog dan Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
"Pemenuhan konsumsi jemaah haji tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat dengan kementerian dan lembaga terkait agar kebijakan yang disusun selaras dan rantai pasok pangan haji dapat diperkuat," ujar Jaenal Effendi dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 26 Januari 2026.
Berdasarkan proyeksi Ditjen PE2HU, kebutuhan beras untuk 205.420 jemaah dan petugas haji pada musim 1447 Hijriah atau 2026 Masehi diperkirakan mencapai sekitar 3.913 ton. Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi konsumsi 150 gram per porsi dengan total 127 kali makan selama operasional haji.
Dalam rapat tersebut, Ditjen PE2HU menyepakati komitmen bersama untuk mengupayakan pemanfaatan beras nasional.
Perum Bulog akan menghitung kebutuhan total serta menyiapkan pasokan sesuai standar kualitas, termasuk beras premium dengan tingkat pecahan maksimal lima persen. Sementara Kementerian Pertanian akan memberikan dukungan dari sisi regulasi guna memperlancar proses ekspor.
Selain itu, rapat juga membahas tantangan daya saing harga beras Indonesia di pasar Arab Saudi. Saat ini, harga beras premium dari sejumlah negara pesaing masih berada di bawah harga beras Indonesia, sehingga diperlukan dukungan kebijakan agar produk nasional dapat bersaing dan diterima di pasar konsumsi haji.
Jaenal menilai kondisi swasembada beras saat ini menjadi momentum penting untuk mendorong pemanfaatan produk dalam negeri.
Selama ini, faktor harga menjadi tantangan utama penggunaan beras lokal. Namun dengan penguatan ekosistem ekonomi haji, pemerintah optimistis produk nasional mampu memiliki daya saing.
Sementara itu, Direktur Fasilitasi Kemitraan PE2HU, Tri Hidayatno, menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya membangun legacy baru dalam penyelenggaraan haji.
"Melalui sinergi ini, kami ingin agar perputaran ekonomi haji yang nilainya sangat besar dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan produsen di tanah air," ucap Tri Hidayatno.
Dengan perencanaan yang dimulai sejak dini, Ditjen PE2HU optimistis pada musim haji mendatang, jemaah haji Indonesia dapat menikmati nasi dari beras produksi petani Indonesia sendiri, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
Editor: Redaksi TVRINews
