
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu (TVRINews/Krisafika Taraisya)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar kegiatan intimate screening film "Pelangi di Mars" di Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap perkembangan industri perfilman nasional yang terus menunjukkan dinamika dan inovasi.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu, mengatakan bahwa film tersebut mencerminkan keberanian sineas Indonesia dalam mengeksplorasi genre yang selama ini masih jarang digarap, yakni fiksi ilmiah atau science fiction (sci-fi).
Menurutnya, perkembangan perfilman nasional tidak hanya terlihat dari sisi cerita, tetapi juga dari pemanfaatan teknologi produksi yang semakin inovatif.
"Film Pelangi di Mars menunjukkan keberanian sineas Indonesia dalam mengeksplorasi genre fiksi ilmiah, sekaligus memanfaatkan teknologi produksi yang inovatif. Hal ini membuktikan bahwa industri film kita terus berkembang melalui kreativitas, inovasi teknologi, dan kolaborasi ekosistem yang semakin kuat," kata Agustini kepada wartawan termasuk tvrinews.com, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Film Pelangi di Mars mengisahkan perjalanan seorang anak perempuan bernama Pelangi yang menjadi manusia pertama yang lahir dan dibesarkan di planet Mars.
Dalam ceritanya, Pelangi bersama para robot sahabatnya menjalani petualangan untuk menemukan mineral langka yang diyakini dapat menjadi harapan baru bagi masa depan Bumi.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 18 Maret 2026 dan diharapkan menjadi salah satu pilihan tontonan keluarga pada momentum libur Lebaran.
Selain mengangkat cerita petualangan keluarga, film ini juga memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) berbasis Unreal Engine, yang memungkinkan penggabungan adegan live action dengan lingkungan digital secara real-time dalam proses produksi.
Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa industri film Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi kreativitas cerita, tetapi juga dari aspek teknologi dan kualitas produksi.
Film ini juga mengangkat isu keberlanjutan lingkungan yang relevan dengan tantangan global saat ini. Pesan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga bumi dan keberlanjutan lingkungan.
Lebih lanjut, Agustini menyampaikan bahwa industri film nasional saat ini tengah berada dalam momentum yang positif. Tingginya jumlah penonton menunjukkan meningkatnya kepercayaan dan kebanggaan publik terhadap karya film Indonesia.
Untuk menjaga momentum tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif terus mendorong penguatan ekosistem industri film nasional, mulai dari perluasan akses pasar, penguatan promosi dan distribusi, hingga pengembangan skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP).
"Kami berharap Pelangi di Mars dapat menginspirasi lebih banyak sineas Indonesia untuk berani bereksperimen dengan genre baru dan teknologi produksi modern, sekaligus menunjukkan bahwa sineas lokal mampu menghadirkan karya science fiction berstandar global," ucapnya.
Editor: Redaksi TVRINews
