
dok. BKSDA
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Aceh
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengonfirmasi terjadinya interaksi negatif antara manusia dan gajah sumatera yang mengakibatkan seorang warga meninggal dunia di Desa Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu, 21 Februari 2026.
Korban diketahui bernama Musahar (53). Ia sempat dilarikan ke RSU Bireuen Medical Center (BMC) untuk mendapatkan penanganan medis, namun tidak tertolong akibat luka berat yang dideritanya.
Kepala Balai KSDA Aceh melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Teuku Irmansyah, menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa interaksi dengan satwa liar memiliki risiko tinggi karena perilaku hewan dipengaruhi naluri alamiah yang sulit diprediksi.
“Kami turut berbelasungkawa atas musibah ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa interaksi dengan satwa liar memiliki risiko tinggi karena perilaku satwa dipengaruhi oleh naluri alamiah yang sulit diprediksi,”kata Irmansyah dalam keterangan tertulis, Minggu, 22 Februari 2026.
Saat ini, tim BKSDA Aceh telah diterjunkan untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Namun, pengecekan langsung ke lokasi kejadian masih menunggu kondisi keamanan yang kondusif.
Berdasarkan keterangan keluarga, peristiwa bermula ketika korban bersama istrinya telah tiga hari menginap di pondok kebun jagung yang berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman. Pada Sabtu sekitar pukul 06.00 WIB, korban menemukan jejak gajah liar di sekitar pondok dan memutuskan mengikuti arah jejak tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara raungan gajah sebanyak tiga kali dari arah lokasi korban.
Merasa khawatir, istri korban menghubungi anaknya untuk mengecek keadaan sang ayah. Saat tiba di lokasi, korban ditemukan sudah tergeletak dengan luka serius di bagian dada dan rahang yang diduga akibat injakan gajah liar.
BKSDA Aceh mencatat beberapa faktor yang diduga memicu kemunculan gajah liar di area perkebunan dan permukiman di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah. Di antaranya kerusakan sarana mitigasi seperti barrier atau pagar listrik (power fencing) yang banyak ditemukan dalam kondisi rusak atau tidak terawat. Selain itu, perubahan jalur jelajah akibat bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor juga diduga memengaruhi pergerakan dan habitat alami gajah.
BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk sementara waktu menghindari area rawan konflik serta tidak melakukan penghalauan gajah secara mandiri.
“Apabila menemukan jejak atau keberadaan gajah di sekitar pemukiman, segera lapor ke petugas agar dapat ditangani sesuai prosedur keselamatan. Kami meminta masyarakat tetap waspada demi menghindari terulangnya kejadian serupa,”tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews
