
Menag Tekankan Penguatan Moral dalam Parade Widyalaya di Denpasar
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri dan menyaksikan Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya yang digelar di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Jumat (13/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menag menekankan pentingnya penguatan moral dan akhlak generasi muda melalui pendidikan berbasis nilai-nilai keagamaan.
Dalam sambutannya, Nasaruddin menyebut masyarakat saat ini tengah menghadapi tantangan krisis moral dan akhlak. Ia berharap keberadaan dan filosofi pendidikan Widyalaya mampu menjadi bagian dari solusi untuk memperkuat kembali fondasi etika dan spiritualitas di tengah kehidupan sosial.
“Kita sedang menghadapi tantangan krisis moral. Mudah-mudahan filosofi dan sendi-sendi pendidikan di Widyalaya ini dapat memperkuat kembali moralitas dan semangat keagamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menag menilai parade tersebut bukan sekadar pertunjukan seni dan busana, melainkan wujud nyata pendidikan agama Hindu yang terintegrasi dengan kesadaran menjaga lingkungan. Para siswa, menurutnya, menampilkan pesan bahwa praktik beragama tidak terlepas dari tanggung jawab merawat alam semesta.
Dengan memadukan simbol-simbol Hindu dan kekayaan tradisi Nusantara, para peserta parade menampilkan filosofi segara-gunung dalam bentuk gerak, busana, dan ekspresi budaya. Hal itu dinilai sebagai gambaran bahwa identitas keagamaan dapat berjalan selaras dengan semangat kebangsaan.
“Kalian adalah wajah masa depan Indonesia. Dalam parade ini terlihat identitas Hindu yang kuat berpadu dengan semangat kebangsaan yang inklusif,” kata Nasaruddin.
Ia juga menegaskan bahwa Widyalaya telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2024. Regulasi tersebut, menurutnya, menjadi payung hukum bagi umat Hindu dalam menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan ajaran agama Hindu.
“Peraturan ini memberikan kepastian hukum bagi penyelenggaraan pendidikan umum berciri khas Hindu,” jelasnya.
Parade Bhakti Pertiwi Widyalaya diikuti sekitar 680 siswa dari 21 Widyalaya se-Bali. Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa serta IAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Melalui kegiatan budaya tersebut, diharapkan pendidikan berbasis nilai agama dan kearifan lokal dapat terus berkembang serta melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam iman dan karakter kebangsaan.
Editor: Redaksi TVRINews
