Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Tanjung Selor
Sejarah masuknya Islam di Kalimantan Utara tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Kesultanan Bulungan. Islam mulai berkembang di wilayah ini sejak abad ke-16 dan terus berperan dalam membentuk identitas sosial, budaya, serta kehidupan keagamaan masyarakat hingga saat ini.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Utara sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Utara, Haji Alwan Saputra, saat menerima kunjungan TVRI di Pondok Pesantren Al-Khairat, Tanjung Selor.
Menurut Alwan, Provinsi Kalimantan Utara yang resmi terbentuk pada 2012 sejatinya berakar dari wilayah Kabupaten Bulungan lama. Oleh karena itu, berbagai catatan sejarah, termasuk perkembangan Islam, berangkat dari sejarah Bulungan.
“Kalau berbicara sejarah Islam di Kalimantan Utara, maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah Bulungan,”ujar Alwan dalam keterangan yang diterima tvrinews di Kalimantan Utara, Selasa, 27 Januari 2026.
Islam Masuk Sejak Abad ke-16
Berdasarkan catatan yang berkembang di masyarakat dan sejarah Kesultanan Brunei, Islam di wilayah Bulungan bermula sekitar tahun 1555. Saat itu, seorang bangsawan dari Kesultanan Brunei bernama Datuk Mancang datang bersama rombongannya ke pesisir Sungai Kayan dengan tujuan menyebarkan Islam.
Di wilayah tersebut, Datuk Mancang bertemu dengan seorang putri bangsawan dari suku Dayak Kayan. Melalui pernikahan yang telah didahului dengan masuk Islamnya sang putri, lahirlah keturunan yang kemudian dikenal sebagai Suku Bulungan.
Perkembangan Islam terus berlangsung hingga sekitar dua abad kemudian. Pada masa itu, datang seorang ulama dari Demak bernama Syed Abdurrahman bin Fakih, yang berperan besar dalam pendirian Kesultanan Bulungan sebagai kesultanan Islam.
“Sultan pertama Bulungan kemudian diberi gelar Amiril Mu’minin, dan Syed Abdurrahman bin Fakih menjadi mufti atau penasihat keagamaannya,” jelas Alwan.
Peran Ulama dan Sejarah Perjuangan
Seiring waktu, sejumlah ulama dari luar daerah turut berperan dalam penguatan Islam di Bulungan. Salah satu tokoh yang dikenal luas adalah Habib Ahmad Al-Maghribi, yang jasanya dikenang masyarakat karena perannya membantu mengamankan wilayah Bulungan dari ancaman kelompok perompak pada masa itu.
Pada masa penjajahan, Kesultanan Bulungan juga dikenal memiliki sikap tegas terhadap kolonialisme Belanda. Salah satu sultan, Sultan Muhammad Adil, dikenal menolak bekerja sama dengan Belanda hingga akhirnya wafat akibat diracun.
Memasuki era menjelang kemerdekaan, hadir pula ulama bernama Syed Fidus bin Salim Al-Jubey yang menjadi cikal bakal berdirinya lembaga pendidikan Islam pertama di Kalimantan Utara, yakni Pondok Pesantren Al-Khairat, yang telah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka.
Namun, sejarah kelam juga pernah terjadi. Pada tahun 1964, Kesultanan Bulungan mengalami peristiwa tragis berupa pembakaran istana dan penangkapan sejumlah kerabat kesultanan. Hingga kini, peristiwa tersebut masih menyisakan tanda tanya dalam sejarah daerah.
Peran MUI Jaga Persatuan dan Toleransi
Dalam kesempatan yang sama, Alwan Saputra menegaskan bahwa MUI Kalimantan Utara memiliki peran penting dalam menjaga persatuan umat di tengah keberagaman paham dan organisasi Islam.
“MUI merupakan wadah bersama seluruh ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Khairat, Hidayatullah, dan lainnya. Perbedaan pandangan kami kelola melalui musyawarah,” lanjutnya.
Ia menegaskan, perbedaan yang tidak bertentangan dengan syariat tetap dihormati, sementara paham-paham yang menyimpang perlu diluruskan melalui edukasi kepada masyarakat.
Tak hanya dalam internal umat Islam, toleransi antarumat beragama di Kalimantan Utara juga berjalan baik. Hal itu didukung oleh filosofi persatuan tiga suku utama, yakni Bulungan, Tidung, dan Kenyah, yang dikenal dengan istilah Bul Tiken.
“Sejak dulu masyarakat hidup rukun. Ada budaya, tarian, dan batik yang menjadi simbol persatuan lintas suku,”tambahnya.
Pesan untuk Generasi Muda
MUI Kalimantan Utara juga menitipkan pesan khusus bagi generasi muda agar memperkuat fondasi keagamaan sejak dini.
“Agama adalah dasar kehidupan. Generasi muda harus belajar agama dari guru dan tempat yang benar, agar tidak terjerumus pada pemahaman yang keliru atau ekstrem,” tegas Alwan.
Ia berharap ke depan semakin banyak pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang mampu menjadi benteng moral generasi muda di tengah tantangan zaman.
“Kalau fondasi sudah kuat sejak muda, maka pengaruh negatif di masa dewasa tidak mudah menggoyahkan prinsip hidup mereka,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
