
Menko Pangan, Zulkifli Hasan (Tengah), TVRINews/Octavian Dwi
Penulis: Octavian Dwi
TVRINews, Jakarta
Pemerintah Republik Indonesia melakukan penyesuaian terhadap penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG). Penghematan dilakukan dengan menyesuaikan frekuensi penyaluran MBG mengikuti hari belajar aktif di sekolah.
Penyesuaian yang mulai berlaku pada April ini merupakan hasil evaluasi lintas kementerian dan lembaga, guna memastikan pelaksanaan program berjalan lebih optimal.
"Dalam rangka perbaikan, efektivitas pelaksanaan, kalau kemarin kan enam hari, hari libur dikasih juga. Nah itu ternyata kurang efektif, oleh karena itu kita putuskan, MBG itu hari sekolah, datang 5 hari. Kalau libur Lebaran kan, kalau (Disalurkan) juga tidak efektif. Jadi itu libur tidak ada lagi , hanya diberikan di hari sekolah" kata Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta. Pada Kamis, 02 April 2026.
Meski demikian, pemerintah tetap memberikan fleksibilitas untuk daerah tertentu, khususnya wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah dengan tingkat stunting tinggi.
"Tapi yang 3T yang tinggi sekali stuntingnya itu ada perlakuan khusus. Selain yang 5 hari sekolah, kalau diperlukan bisa saja ditambah lagi 1 hari karena kemiskinan juga tinggi dan sebagainya. Termasuk pondok (Pondok pesantren) 6 hari, tergantung pondok juga, ada yang 5 ada yang 6 hari, karena pondok itu kan orang tinggal," lanjutnya.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini kelompok penerima manfaat lainnya seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dipastikan akan tetap berjalan, tanpa ada perubahan dan terus disempurnakan.
“Perlu disempurnakan saat ini, iya. Tapi (Untuk) ibu hamil dan menyusui dan balita sangat penting, karena itu akan menentukan masa depan anak-anak kita yang pada akhirnya akan menentukan masa depan Indonesia. (Jadi) Tidak ada perubahan apa pun,” tutur Zulhas.
Editor: Redaktur TVRINews
