
Foto: dok. BNPB
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan tanggapan terkait sikap sejumlah kepala daerah yang kerap menyalahkan curah hujan tinggi ketika terjadi bencana. Deputi BNPB, Raditya Jati mengatakan, jika kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dimulai dari penetapan status wilayah hingga langkah-langkah antisipatif di tingkat daerah.
Tak hanya itu, ia menegaskan, jika ketergantungan penuh pada pemerintah pusat bukanlah solusi.
“Seringkali bencana terjadi, tapi kepala daerah langsung menyalahkan hujan, padahal sebenarnya mereka tidak siap,” ujar Raditya saat rapat koordinasi bersama seluruh kepala daerah dan Forkopimda di Kantor Kemendagri pada Senin, 1 Desember 2025.
Kemudian, ia mengatakan jika penyebab bencana juga bisa bersumber dari tata ruang yang tidak sesuai aturan.
“Misalnya, di beberapa wilayah Jabodetabekpunjur, banyak rumah yang dibangun melanggar sempadan sungai,” ungkapnya
Lebih lanjut, ia mengatakan jika data m ini didukung oleh pemantauan satelit BNPB. Sempadan sungai sendiri penting untuk mencegah banjir, erosi, dan menjaga fungsi ekologis sungai.
Raditya menekankan perlunya koordinasi lintas sektor di daerah rawan bencana untuk memastikan keselamatan warga.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengingatkan curah hujan tinggi yang diprediksi akan terjadi hingga awal 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain selatan Indonesia, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.
“Periode November 2025 hingga April 2026 merupakan masa pertumbuhan bibit siklon tropis di selatan Indonesia, sehingga potensi hujan lebat dan angin kencang meningkat,” jelas Teuku.
BMKG juga memastikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih berlangsung di tiga posko wilayah Sumatera, yaitu Aceh, Medan, dan Padang, hingga Rabu, 3 Desember 2025 OMC bertujuan mengurangi potensi hujan di daerah bencana agar proses evakuasi dan distribusi bantuan tetap aman.
“Kita menebarkan larutan garam halus untuk mengarahkan hujan ke wilayah yang tidak rawan, sehingga operasi penyelamatan tidak terganggu,” tambah Teuku.
Editor: Redaksi TVRINews
