Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI sekaligus Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Najib Advani, memaparkan aspek medis serta risiko jangka panjang penyakit Kawasaki pada anak dalam seminar media Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan (PJB).
Prof Najib menjelaskan bahwa penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh dokter anak asal Jepang, Tomisaku Kawasaki, dan kini telah ditemukan di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
“Tanpa pengobatan, sekitar 15 hingga 25 persen anak dengan Kawasaki dapat mengalami kelainan pada pembuluh darah koroner. Ini yang menjadi perhatian utama,”kata Najib dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 10 Februari 2026.
Dominan Serang Balita
Menurutnya, Kawasaki paling sering menyerang anak usia di bawah lima tahun, dengan anak laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, yakni sekitar 1,5 banding 1.
Gejala khas yang perlu diwaspadai orang tua meliputi:
- Demam tinggi lebih dari lima hari dan tidak membaik
- Mata merah tanpa kotoran
- Bibir merah pecah-pecah serta lidah tampak seperti stroberi
- Ruam pada tubuh
- Telapak tangan dan kaki merah atau bengkak
- Pembesaran kelenjar getah bening di leher
Di Indonesia, salah satu tanda yang cukup khas adalah kemerahan pada bekas suntikan BCG.
“Jika anak balita demam lebih dari lima hari disertai mata merah dan ruam, harus dicurigai Kawasaki dan segera diperiksakan ke dokter,” tegasnya.
Risiko Komplikasi Jantung Serius
Prof Najib menjelaskan, komplikasi jantung akibat Kawasaki dapat berupa pelebaran (dilatasi) atau aneurisma arteri koroner, peradangan otot jantung (miokarditis), gangguan katup, hingga risiko penyumbatan pembuluh darah yang berujung serangan jantung.
“Semakin besar pelebaran koroner, semakin tinggi risiko terbentuknya bekuan darah. Ini bisa berbahaya hingga dewasa muda,”jelasnya.
Karena itu, pemeriksaan jantung secara menyeluruh, termasuk ekokardiografi, sangat penting untuk mendeteksi keterlibatan pembuluh darah koroner sejak dini.
Pentingnya Terapi Dini
Terapi utama Kawasaki adalah pemberian imunoglobulin intravena (IVIG) dosis tinggi yang diberikan dalam 10 hari pertama sejak demam muncul, disertai terapi aspirin. Pengobatan dini terbukti menurunkan risiko komplikasi koroner secara signifikan.
Najib menekankan, anak yang pernah mengalami gangguan koroner akibat Kawasaki harus menjalani kontrol jangka panjang hingga remaja dan dewasa. Pemantauan diperlukan untuk mengantisipasi risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari, termasuk faktor risiko seperti merokok, hipertensi, dan gaya hidup tidak sehat.
Melalui forum ini, IDAI mengingatkan bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama. Dengan peningkatan kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan, diharapkan Kawasaki dapat dikenali lebih dini sehingga risiko kerusakan jantung permanen dapat dicegah.
Editor: Redaktur TVRINews
