
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo (Foto: TVRINews/HO-Kemenhaj)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia melalui Pusat Kesehatan Haji memperkuat skema layanan medis bagi jemaah haji menyambut musim operasional 1447 H/2026 M.
Sebanyak 45 klinik kesehatan disiapkan di dua kota suci, Makkah dan Madinah, guna merespons kebijakan rasio pelayanan terbaru dari Pemerintah Arab Saudi.
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, menjelaskan bahwa sesuai aturan baru tersebut, satu klinik kesehatan kini dipatok minimal melayani 5.000 jemaah.
"Kami menyiagakan 40 klinik kesehatan yang tersebar di 10 sektor di Makkah dan 5 klinik kesehatan di 5 sektor di Madinah. Selain itu, satu Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) akan tetap beroperasi di masing-masing kota tersebut," ujar Liliek dalam keterangan yang diterima tvrinews.com, Selasa, 31 Maret 2026.
Liliek mengatakan, penambahan klinik dan penguatan layanan di KKHI diharapkan dapat mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi jemaah
Penerapan Sistem Rujukan Berbasis 'Severity Level'
Untuk memastikan ketepatan penanganan medis, petugas kesehatan kloter tahun ini akan dibekali pedoman rujukan berbasis tingkat keparahan (severity level) penyakit.
Sistem ini memandu petugas di lapangan untuk menentukan apakah jemaah cukup dirujuk ke KKHI atau harus segera dilarikan ke Rumah Sakit milik Pemerintah Arab Saudi.
"Pendekatan severity level ini penting agar jemaah mendapatkan pertolongan cepat yang sesuai dengan kondisi kesehatannya," tambah Liliek.
Supervisi Internasional dan Distribusi Logistik
Tahun ini, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan adanya supervisi dari penyedia layanan kesehatan swasta terakreditasi untuk menjamin mutu layanan. Dalam hal ini, pengawasan layanan kesehatan jemaah Indonesia akan dilakukan oleh Saudi German Hospital.
Terkait logistik, distribusi obat-obatan akan dikelola secara terpusat dari KKHI Makkah dan Madinah. Suplai medis tersebut akan disalurkan langsung kepada tenaga kesehatan kloter yang bertugas mendampingi jemaah di hotel-hotel selama masa operasional.
Imbauan Menjaga Kondisi Fisik dan Spiritual
Mengingat ibadah haji merupakan ibadah fisik, Liliek mengimbau calon jemaah untuk menjaga kebugaran sejak dini.
Liliek menyarankan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan, konsumsi makanan bergizi, serta olahraga ringan minimal 30 menit setiap hari.
"Jemaah perlu istirahat cukup, minimal enam jam tidur setiap malam, dan menjaga pikiran tetap positif," tuturnya.
Bagi jemaah dengan penyakit penyerta (komorbid), ditekankan untuk disiplin mengonsumsi obat sesuai resep dokter.
Selain kesiapan fisik, Liliek mengajak jemaah memperkuat kesiapan spiritual melalui zikir dan doa agar seluruh proses ibadah berjalan lancar dan sehat.
Editor: Redaksi TVRINews
