
Hadapi Ketidakpastian Global, Menko AHY Tekankan Pembangunan SDM Sebagai Fondasi Infrastruktur Nasional
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersiap menghadapi ketidakpastian global dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM). Di tengah dunia yang semakin dinamis dan penuh disrupsi, peran sivitas akademika dinilai sangat strategis dalam mendukung pemerintah melalui penguatan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.
Menko AHY menilai tahun 2026 menjadi periode yang sarat dengan berbagai tantangan strategis, di mana dinamika politik dan ekonomi internasional menempatkan kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat konsentrasi kekuatan global. Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi negara maju yang dihormati dunia jika memiliki komitmen dan mentalitas yang kuat.
Menurutnya, optimisme harus disertai dengan disiplin dan konsistensi. Menko AHY menekankan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak akan memberikan nilai tambah yang maksimal tanpa kehadiran SDM yang unggul dan berdaya saing tinggi.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, AHY menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur fisik harus diposisikan sebagai sarana pendukung (enabler) untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Infrastruktur berperan penting dalam membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, hingga menurunkan biaya logistik di seluruh pelosok negeri.
“Infrastruktur harus untuk semua, tanpa meninggalkan siapa pun, wilayah mana pun, dan generasi mana pun,” tegas AHY dalam keterangannya, Kamis, 5 Februari 2026.
Menko AHY menambahkan bahwa infrastruktur tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan keterampilan manusia. Ia mencontohkan keberhasilan negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan yang transformasi ekonominya bertumpu pada penguatan sains, teknologi, serta pendidikan tinggi secara konsisten.
Pelajaran tersebut dinilai relevan agar Indonesia dapat segera keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Oleh karena itu, penguatan riset terapan yang selaras dengan kebutuhan industri serta peningkatan pendidikan di bidang sains dan teknologi perlu menjadi agenda nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Menko AHY juga memberikan apresiasi khusus kepada Universitas Indonesia atas kontribusi nyata dalam Program Transmigrasi Patriot. Sebanyak 285 guru besar, dosen, serta mahasiswa terlibat dalam ekspedisi riset di 37 kawasan transmigrasi yang tersebar di 22 provinsi.
Hasil riset tersebut dinilai memberikan masukan penting bagi perencanaan pembangunan kawasan yang lebih terintegrasi. Hal ini diharapkan mampu membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Editor: Redaksi TVRINews
