
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto saat mengemuka dalam audiensi bersama dengan Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI).
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong pembentukan konsorsium nasional pengembangan satelit sebagai langkah strategis memperkuat kedaulatan komunikasi dan teknologi Indonesia. Hal ini, diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto saat mengemuka dalam audiensi bersama dengan Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI).
Pada kesempatan tersebut, Menteri Brian menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi untuk membangun ekosistem teknologi satelit yang mandiri.
“Kita buat konsorsium bersama yang melibatkan asosiasi, industri, dan perguruan tinggi. Dukungan riset dapat diperkuat dari kampus, sementara pemerintah dapat mengalokasikan pendanaan agar kedaulatan teknologi semakin terjamin,” ujar Menteri Brian pada Rabu, 22 April 2026.
Tak hanya itu, ia juga menegaskan bahwa integrasi riset dan kebutuhan industri menjadi kunci dalam memperkuat daya saing nasional, terutama di sektor komunikasi yang memiliki peran strategis.
“Dalam kondisi tertentu, komunikasi menjadi sangat strategis. Ketergantungan terhadap pihak eksternal perlu dikurangi agar sistem komunikasi nasional tetap andal dan aman,” tegas Menteri Brian.
Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak yang mendorong hilirisasi riset serta kolaborasi lintas sektor agar inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum ASSI, Risdianto, menyampaikan bahwa industri satelit nasional saat ini tengah mengalami perubahan signifikan.
Menurutnya, orientasi industri telah bergeser dari sekadar penyedia konektivitas menjadi penyedia solusi berbasis teknologi.
“Dulu berbasis connectivity, sekarang berkembang menjadi solution-based. Connectivity telah menjadi komoditas, sehingga inovasi perlu didorong pada layanan digital dan solusi berbasis teknologi,” ujar Ketua Umum ASSI.
ASSI juga menegaskan bahwa satelit masih menjadi solusi utama untuk menjangkau wilayah Indonesia yang luas sebagai negara kepulauan.
Dalam diskusi tersebut, kedua pihak turut menyoroti pentingnya pengembangan nano-satellite untuk mendukung komunikasi, pemantauan wilayah, hingga penguatan kedaulatan nasional.
Pengembangan teknologi ini dinilai memerlukan orkestrasi nasional yang mencakup dukungan regulasi, akses peluncuran, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, ASSI akan menggelar Asia Pacific Satellite Conference 2026 pada 12–13 Mei 2026 di Jakarta.
Melalui inisiatif ini, pemerintah menegaskan komitmennya dalam membangun kemandirian teknologi nasional, khususnya di sektor komunikasi strategis, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem teknologi global.
Editor: Redaksi TVRINews
