
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak (kanan) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (kiri). Foto: Kemenhaj
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menggelar pertemuan strategis dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk membahas penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan jemaah.
Dahnil menegaskan pengelolaan haji tidak hanya diukur dari sukses ritual ibadah, tetapi juga dari kemampuan membangun ekosistem ekonomi yang menopang pelayanan secara berkelanjutan.
“Pengelolaan haji harus dimaknai secara komprehensif. Tidak hanya sukses ritualnya, tetapi juga sukses membangun ekosistem ekonominya agar manfaatnya kembali kepada bangsa dan memperkuat pelayanan jemaah,” ujar Dahnil dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Dahnil mengungkapkan bahwa dari sekitar Rp40 triliun perputaran uang haji per tahun, sekitar 80 persen berupa arus keluar devisa ke luar negeri. Angka ini belum termasuk potensi ekonomi dari lebih dua juta jemaah umrah Indonesia setiap tahun.
"Kondisi tersebut menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai pasok haji dan umrah," katanya.
Sebagai langkah konkret, Kemenhaj akan mengembangkan asrama haji menjadi pusat penguatan ekosistem ekonomi. Dengan lahan yang luas dan tersebar di berbagai daerah, asrama haji bisa dimanfaatkan sebagai pusat logistik, pelatihan, inkubasi usaha, hingga etalase produk nasional untuk kebutuhan jemaah.
Meski demikian, Dahnil menekankan pengembangan ini membutuhkan sinergi lintas kementerian dan lembaga, terutama di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian.
“Kami berharap Kemenko Perekonomian dapat mengorkestrasi kementerian dan lembaga terkait agar agenda penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah berjalan terpadu dan berdampak nyata,” katanya.
Sementara itu, Menko Perekonomian menyambut baik gagasan ini dan menekankan pentingnya langkah teknis terstruktur, seperti memetakan importir di Arab Saudi dan membangun pusat distribusi agar produk Indonesia lebih mudah diakses pasar setempat.
Selain perdagangan produk, pertemuan ini juga membahas ekspor pangan seperti beras, makanan siap saji, dan bumbu pasta, serta peluang peningkatan kunjungan wisatawan Arab Saudi dan Timur Tengah ke Indonesia.
Optimalisasi pengiriman logistik jemaah melalui penerbangan kosong (empty flight) dan promosi pariwisata terintegrasi juga menjadi strategi yang diupayakan.
Pertemuan ini menjadi langkah awal penguatan tata kelola haji dan umrah yang tidak hanya unggul dalam pelayanan ibadah, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional.
Editor: Redaksi TVRINews
