
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyebut Konvensyen Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) ke-23 sebagai ajang penting untuk memperkuat persatuan bangsa-bangsa serumpun Melayu dan umat Islam di dunia. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri gala dinner DMDI di Gedung Nusantara V, Kamis (23/10/2025).
Dalam sambutannya, Yusril mengaku bangga dapat hadir mewakili jajaran kabinet. Ia menilai forum ini bukan hanya sebagai pertemuan budaya, tetapi juga ruang untuk memperkuat jati diri peradaban Melayu dan Islam di kancah global.
“Pada malam hari ini kita hadir bersama dalam jamuan makan malam DMDI. Saya merasa sangat bahagia bisa hadir, karena Dunia Melayu dan Dunia Islam adalah sesuatu yang sangat menarik,” ujar Yusril.

Ia menjelaskan, konsep Melayu dalam konteks DMDI tidak semata berdasarkan etnis, tetapi mencakup bahasa, budaya, dan agama. “Di Malaysia, Melayu bukan hanya identitas etnik. Melayu adalah mereka yang berbahasa Melayu, menjalankan adat Melayu, dan beragama Islam. Jadi ini lebih merupakan konsep budaya dan agama,” jelasnya.
Menurut Yusril, jika definisi tersebut digunakan, maka bangsa Melayu tersebar sangat luas di berbagai penjuru dunia. Ia mencontohkan komunitas Melayu yang ditemuinya mulai dari Cape Town di Afrika Selatan hingga Tonga di wilayah Pasifik.
“Bahkan di Okinawa dan Taiwan, terdapat kesamaan akar budaya dengan rumpun Melayu. Beberapa kosakata dalam bahasa Tagalog di Filipina pun memiliki kemiripan,” ujarnya.
Yusril berharap kongres ini menjadi wadah untuk memperkuat persatuan dan kerja sama antarnegara anggota DMDI. “Mudah-mudahan kongres ini berhasil dan mampu menyatukan Dunia Melayu dan Dunia Islam di tingkat global,” tandasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
