
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Operasi Modifikasi Cuaca selama 9 hari difokuskan pada pembasahan lahan gambut dan pengisian embung air.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau sebagai langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan curah hujan demi menjaga kelembaban lahan gambut serta mengisi cadangan air di embung-embung.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa operasi ini berlangsung selama sembilan hari, mulai 14 hingga 22 April 2026. Kemenhut menargetkan sebanyak 14 sortie penerbangan untuk menyemai awan di wilayah-wilayah rawan.
“Telah dilaksanakan penyemaian bahan semai sebanyak 2 sortie dengan total 1.600 kg NaCl (garam). Area semai difokuskan di sekitar Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai,” ujar Thomas dalam pernyataan resminya, dikutip Sabtu, 18 April 2026.
Langkah ini diambil mengingat Provinsi Riau telah memasuki musim kemarau lebih awal, yakni sejak Februari 2026. Saat ini, Riau juga berada dalam status Siaga Darurat Bencana Karhutla yang berlaku hingga 30 November 2026 berdasarkan Keputusan Gubernur Riau.
Data Karhutla Nasional
Thomas mengungkapkan, berdasarkan pantauan Kemenhut, luas karhutla nasional pada periode Januari hingga Maret 2026 telah mencapai 55.324,2 hektare. Riau menjadi provinsi dengan luas kebakaran tertinggi kedua di Indonesia.
“Tiga provinsi dengan luas kejadian kebakaran tertinggi berturut-turut adalah Kalimantan Barat (25.420,73 ha), Riau (8.555,37 ha), dan Kepulauan Riau (4.167,78 ha),” jelas Thomas.
Oleh karena itu, lanjut Thomas, OMC menjadi inovasi penting dalam solusi pencegahan karhutla secara permanen. Paradigma pengendalian kini lebih dititikberatkan pada aspek pencegahan, yang dikombinasikan dengan patroli darat oleh Manggala Agni, kampanye edukasi, serta pelibatan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Optimalkan Kelembaban Gambut
Sementara itu, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, menambahkan bahwa waktu pelaksanaan OMC saat ini sangat ideal karena dilakukan menjelang puncak musim kemarau.
“OMC dilakukan untuk menjaga kelembaban tanah dan mengisi kubah gambut. Cadangan air ini sangat krusial sebagai sumber air untuk pemadaman darat maupun water bombing jika nantinya muncul titik api,” kata Budi.
Dalam pelaksanaannya, Kemenhut bersinergi dengan BMKG, TNI AU, dan BNPB. Saat ini tersedia tiga armada pesawat yang beroperasi secara paralel untuk menjangkau area semai yang telah dipetakan.
Budi berharap, setelah operasi dukungan Kemenhut selesai, pihak mitra swasta dapat melanjutkan langkah serupa agar Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut tetap terjaga di atas ambang batas aman, sehingga potensi kebakaran besar dapat diminimalisir.
Editor: Redaksi TVRINews
