
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan untuk bersaing di pasar tenaga kerja global. Terlebih, saat ini kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks dan lintas negara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mencatat jika jumlah pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai sekitar 296 ribu orang dengan kontribusi remitansi sebesar Rp280 triliun.
Meski angka ini cukup besar, proporsi tenaga kerja terampil Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara seperti Filipina dan India, terutama pada sektor-sektor dengan keahlian tinggi.
Di sisi lain, berbagai laporan global menunjukkan adanya kebutuhan besar terhadap tenaga kerja terampil di sejumlah negara, khususnya pada sektor kesehatan, manufaktur, dan teknologi.
Kondisi tersebut menjadi peluang strategis yang perlu dimanfaatkan Indonesia melalui peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia.
Merespons hal tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menginisiasi forum diskusi dan sosialisasi terkait peluang kerja luar negeri bagi tenaga terampil Indonesia, dengan menitikberatkan pada penguatan Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menegaskan bahwa diperlukan perubahan paradigma dalam memandang kerja di luar negeri, khususnya bagi lulusan perguruan tinggi.
“Hari ini kita sedang merancang sebuah formula yang efektif untuk memasifkan kerja ke luar negeri, khususnya lulusan perguruan tinggi. Pertemuan ini akan melahirkan satu konsep menuju budaya dan pola pikir baru terkait bekerja di luar negeri,” ujar Wamen Fauzan.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi sentral dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang mampu menjawab kebutuhan global.
“Di tingkat global terdapat kekurangan tenaga kerja terampil. Perguruan tinggi merupakan sentra utama untuk menyiapkan talenta yang dibutuhkan, baik untuk kebutuhan domestik maupun internasional,” jelas Dirjen Khairul.
Penguatan CDC dinilai sebagai langkah strategis untuk menjembatani lulusan dengan dunia kerja internasional. Melalui CDC, mahasiswa tidak hanya mendapatkan informasi karier, tetapi juga pembekalan keterampilan tambahan seperti kemampuan bahasa asing, adaptasi budaya, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja global.
Saat ini, sekitar 170 CDC telah beroperasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ke depan, peran CDC diharapkan semakin optimal sebagai penghubung antara kebutuhan industri global dan kompetensi lulusan.
Kolaborasi dengan KP2MI juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem tersebut. Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KP2MI, Dwi Setiawan Susanto, menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengembangkan konsep migrant center yang dapat disinergikan dengan kampus.
“Setiap kampus memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga kapasitas yang dibutuhkan berbeda-beda pula. Indonesia punya berbagai sektor unggulan. Center-center ini harus kita manfaatkan dan kolaborasikan bersama,” ujar Dirjen Dwi.
Melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya, Kemdiktisaintek optimistis dapat mendorong lahirnya lebih banyak talenta Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.
Ke depan, penguatan CDC diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang adaptif, sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia untuk bekerja dan berkontribusi di panggung internasional.
Editor: Redaksi TVRINews
