
Dok. Kemenhut RI
Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Kementerian Kehutanan RI mencatat akumulasi 1.570 keping kayu olahan hasil pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera Utara hingga 13 Januari 2026. Total volume kayu olahan tersebut mencapai 22,5131 meter kubik.
Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa penanganan pascabencana difokuskan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, meliputi pembersihan material banjir, pengolahan kayu hanyutan, hingga normalisasi aliran Sungai Garoga.
“Kemenhut mengerahkan personel bersama 5 unit alat berat untuk melaksanakan pembersihan sampah kayu, pembuatan galangan untuk pemanfaatan kayu dan pembuatan tanggul dengan material sisa kayu serta pemilahan kayu untuk pengolahan kayu hanyutan. Sementara kegiatan pembukaan dan persiapan lahan untuk hunian tetap di Desa Aek Pining Batang Toru dan hunian sementara di Desa Batu Hula sudah 100% pengerjaan,” ungkap Novita dikutip dari laman resmi Kemenhut RI pada Rabu, 14 Januari 2026.
Pada 13 Januari 2026, jumlah kayu yang berhasil diolah mencapai 66 keping dengan volume 1,1400 meter kubik. Dari total tersebut, 1.415 keping atau 19,1792 meter kubik telah diangkut ke lokasi pembangunan huntara di Desa Batu Hula.
Selain itu, kayu olahan juga dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur umum di Desa Garoga. Hingga saat ini, sebanyak 50 keping kayu dengan volume 0,744 meter kubik telah didistribusikan untuk mendukung operasional dapur umum.
Tak hanya pemanfaatan kayu, upaya pemulihan lingkungan turut dilakukan melalui normalisasi Sungai Garoga. Dari total target 5,3 kilometer, pembersihan sumbatan kayu di bagian hulu sungai telah mencapai ±2,189 kilometer atau sekitar 41,3 persen, dengan melibatkan 7 unit alat berat.
Kementerian Kehutanan menegaskan, seluruh pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara terkontrol dan legal sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak bencana.
Editor: Redaksi TVRINews
