
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Aceh Tamiang
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisantek) telah menerjunkan 5.040 mahasiswa ke Provinsi Aceh untuk membantu masyarakat pulih pascagempa dan bencana lainnya melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana mengatakan, 1.620 dari 5.040 mahasiswa ditempatkan di Kabupaten Aceh Tamiang yang fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pemulihan sosial-ekonomi.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan ilmu, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
“Secara nasional, program ini melibatkan 10.090 mahasiswa yang tersebar di 167 desa dan kelurahan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama satu bulan,” ucapnya.
Di Aceh, terusnya mahasiswa melaksanakan 102 proposal dari 36 perguruan tinggi. Khusus Aceh Tamiang, program dijalankan melalui 33 proposal dari 13 perguruan tinggi untuk mendukung pemulihan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Ia menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa di lapangan adalah bentuk nyata transformasi pendidikan tinggi agar lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Mahasiswa dan pemerintah hadir bersama masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan memberikan semangat bagi warga untuk bangkit, sekaligus menunjukkan bahwa potensi lokal dan teknologi bisa dimanfaatkan untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Ketut.
Tak hanya itu, ia menekankan bahwa program tersebut untuk memberdayakan ekonomi berbasis potensi lokal, termasuk pengembangan agroindustri dan hidroponik.
“Mahasiswa juga terlibat dalam penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, dan rehabilitasi lingkungan,” kata dia.
Kegiatan dilakukan secara kolaboratif dengan dosen pembimbing, pemerintah daerah, dan masyarakat agar hasilnya berkelanjutan.
Kepala Desa Kampung Dalam, Sukriya Sidiqi, menyatakan apresiasinya atas kontribusi mahasiswa. Menurutnya, desa sebelumnya menghadapi keterbatasan dalam pengelolaan ekonomi dan akses sanitasi.
“Program ini sangat membantu dan kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” kata Sukriya.
Selain manfaat langsung bagi masyarakat, program ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepemimpinan, empati, dan kemampuan memecahkan masalah di lapangan.
Dosen Pembimbing Utama dan Kepala Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Medan, Supriyanto, menekankan bahwa program ini menunjukkan perguruan tinggi bisa menjadi mitra strategis masyarakat dalam pemulihan pascagempa.
“Harapannya, semakin banyak masyarakat yang terbantu dan bisa bangkit kembali melalui kolaborasi ini,” ujarnya.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026, Kemdiktisaintek menegaskan komitmen membangun kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat serta memperkuat ketahanan desa dalam menghadapi bencana di masa depan.
Editor: Redaktur TVRINews
