
Indonesia-Jepang Perkuat Konservasi Orangutan Lewat Program Cooperative Breeding
TVRINews, Jakarta
TSI dan Tobe Zoo Jepang bekerja sama menjaga keberlangsungan genetik orangutan melalui pertukaran dan peminjaman satwa.
Taman Safari Indonesia (TSI) memperkuat kerja sama konservasi orangutan dengan Jepang melalui program cooperative breeding. Kolaborasi ini ditandai dengan kunjungan Gubernur Prefektur Ehime, Jepang, Tokhiro Nakamura, ke Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor.
Kerja sama tersebut melibatkan TSI dan Tobe Zoo Jepang dalam upaya pelestarian orangutan melalui pengelolaan genetik serta program pengembangbiakan terkontrol guna menjaga keberlangsungan populasi orangutan di Jepang.
Fokus Pelestarian dan Pengelolaan Genetik
Founder Taman Safari Indonesia, Jansen Manansang, mengatakan kerja sama ini bertujuan memperkuat keberagaman genetik orangutan yang berada di Jepang. Program dijalankan melalui mekanisme pertukaran dan peminjaman satwa antarlembaga konservasi.
“Kerja sama ini dilakukan antar kebun binatang untuk menjaga dan memperkuat genetik orangutan. Indonesia membantu melalui skema peminjaman, sehingga populasi orangutan di Jepang tetap lestari dan berkembang,” ujar Jansen, dikutip Senin, 19 Januari 2026.
Pertukaran Riset dan Sumber Daya Manusia
Selain aspek konservasi, kolaborasi ini juga mencakup penguatan bidang riset dan ilmiah. Bentuk kerja sama meliputi pertukaran pengetahuan, teknologi, serta sumber daya manusia, seperti keeper, dokter hewan, dan tenaga ahli konservasi.
“Tidak hanya soal satwa, tetapi juga pertukaran ilmu, teknologi, dan SDM. Ini memperkuat hubungan Indonesia dan Jepang,” kata Jansen.
Orangutan Jennifer Dikirim ke Jepang
Dalam program tersebut, seekor orangutan betina asal Indonesia bernama Jennifer telah diterbangkan ke Jepang pada November 2025. Jennifer akan dipasangkan dengan orangutan jantan bernama Hayato di Tobe Zoo sebagai bagian dari program pengembangbiakan. Keduanya merupakan orangutan dewasa berusia sekitar 10–15 tahun.
Gubernur Prefektur Ehime, Tokhiro Nakamura, mengatakan Jennifer saat ini masih ditempatkan di ruang khusus dan belum diperkenalkan kepada publik untuk menjaga kesehatannya di tengah cuaca dingin Jepang.
“Jennifer dipantau selama 24 jam oleh para keeper. Kondisinya sehat dan nafsu makannya baik, namun kami memastikan adaptasinya berjalan optimal,” ujar Nakamura.
Pertemuan Bertahap dan Antusiasme Publik
Nakamura menjelaskan, pertemuan Jennifer dan Hayato akan dilakukan secara bertahap dan diproyeksikan dimulai pada Mei, saat suhu udara mulai menghangat. Pihak Tobe Zoo juga telah menyiapkan kandang baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pasangan orangutan tersebut.
Ia menambahkan, antusiasme masyarakat Jepang terhadap kehadiran Jennifer cukup tinggi. Pihak kebun binatang bahkan berencana menggelar acara khusus saat Jennifer dan Hayato resmi dipertemukan.
Bagian dari Diplomasi Konservasi
Sementara itu, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menegaskan pemanfaatan satwa liar dalam kerja sama ini merupakan bagian dari diplomasi konservasi antara Indonesia dan Jepang.
“Ini menjadi salah satu strategi diplomasi dengan memanfaatkan satwa liar untuk memperkuat hubungan bilateral yang telah terjalin baik,” ujarnya.
Munawir menjelaskan, kerja sama ini menggunakan skema breeding loan, yakni peminjaman satwa untuk tujuan konservasi, penelitian, dan edukasi tanpa mengalihkan status kepemilikan. Dengan skema tersebut, orangutan yang dikirim ke Jepang, termasuk keturunannya, tetap menjadi milik Indonesia.
Editor: Redaksi TVRINews
