
Foto : New york Times
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Di tengah serangan Israel, Ayatollah Khamenei berlindung di bunker dan titipkan tiga nama suksesi ke Majelis Ahli untuk antisipasi kematian atau pembunuhan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan telah menetapkan tiga nama calon penggantinya secara rahasia jika dirinya tewas dalam situasi genting saat ini. Hal ini muncul di tengah meningkatnya serangan Israel ke Republik Islam Iran melalui Operasi Rising Lion, yang bertujuan melumpuhkan kemampuan nuklir Teheran.
Mengutip laporan The New York Times yang bersumber dari pejabat Iran tanpa nama, Khamenei (86 tahun) tidak hanya mempersiapkan transisi kepemimpinan tertinggi, tetapi juga telah menyiapkan pengganti untuk komando militer yang mulai terpukul akibat serangan udara Israel sejak 13 Juni lalu.
Lebih lanjut, laporan tersebut menyebut bahwa Ayatollah Khamenei saat ini bersembunyi di dalam bunker dan hanya berkomunikasi dengan lingkaran dalamnya melalui seorang ajudan kepercayaan. Sementara itu, komunikasi elektronik sepenuhnya ditangguhkan karena kekhawatiran terhadap serangan siber dan intelijen asing.
“Khamenei telah menunjuk tiga ulama senior sebagai kandidat pengganti dirinya jika dia terbunuh,” tulis The New York Times
Menurut sumber yang sama, Majelis Ahli badan ulama Iran yang memiliki kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi sudah menerima ketiga nama tersebut untuk mempercepat proses suksesi jika dibutuhkan secara darurat. Biasanya proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, namun Khamenei menghendaki transisi cepat demi stabilitas rezim dan kelangsungan revolusi Islam.
Menariknya, dari laporan itu pula diketahui bahwa nama putra Khamenei, Mojtaba Khamenei—yang sebelumnya dirumorkan kuat sebagai penerus ayahnya tidak termasuk dalam daftar calon tersebut. Hal ini dianggap sebagai langkah untuk meredam kekhawatiran publik akan munculnya dinasti teokratis.
“Kita belum melihat tanda-tanda pemberontakan rakyat. Sebaliknya, ada kekhawatiran besar di tengah publik tentang tujuan akhir Israel,” kata Hamidreza Azizi, peneliti tamu di German Institute for International and Security Affairs, kepada Newsweek
Di sisi lain, ancaman terhadap fasilitas nuklir Iran semakin nyata. Lokasi Fordow yang dijaga ketat dan berada di bawah tanah disebut-sebut bisa dihancurkan oleh bom penghancur bunker GBU-57 milik AS yang diluncurkan lewat pesawat siluman B-2.
Namun para pakar, termasuk John Sawers, mantan Kepala MI6 Inggris, menyatakan bahwa meskipun fasilitas itu dihancurkan, hal tersebut belum tentu menggulingkan rezim di Teheran.
Spekulasi mengenai keterlibatan langsung Amerika Serikat juga terus bergulir. Mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengumumkan keputusan terkait dukungan militer penuh kepada Israel dalam dua pekan ke depan, sebuah langkah yang disebut Menlu Iran Abbas Araghchi sebagai “sangat berbahaya.”
Dengan konflik yang terus memanas dan publik Iran berada dalam ketidakpastian, penunjukan tiga pengganti oleh Khamenei menjadi sinyal kuat bahwa pemimpin tertinggi tersebut tak sekadar bersiap menghadapi serangan fisik namun juga krisis legitimasi dan masa depan republik Islam itu sendiri.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Mengapa Trump Targetkan 3 Situs Nuklir Iran?
Editor: Redaksi TVRINews
