TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan bahwa penguasaan teknologi nasional merupakan fondasi utama dalam menjaga martabat bangsa sekaligus mendorong kemandirian ekonomi Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikannya di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto saat memaparkan jajaran inovasi strategis BRIN dalam agenda pertemuan bersama 150 periset di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Arif mengungkapkan bahwa keberhasilan Indonesia di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam menguasai, mengembangkan, dan memproduksi teknologinya sendiri, bukan sekadar menjadi pengguna produk asing.

"Bapak Presiden, tentu seluruh contoh ini hanya sebagian dari kekayaan intelektual yang kami petakan, yang kami miliki. Pesan yang kami ingin sampaikan bahwa BRIN bukan hanya memiliki banyak produk, pesannya adalah bahwa Indonesia sedang membangun kapabilitas teknologi nasional untuk pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia," ujar Arif Satria.
Ia juga menekankan pesan penting dari Presiden Prabowo yang menjadi pijakan utama seluruh peneliti dan periset BRIN dalam mengembangkan riset-riset strategis demi kedaulatan negara.
"Saya selalu teringat kata-kata Bapak Presiden, bahwa penguasaan teknologi adalah martabat bangsa. Tahap berikutnya adalah, bagaimana kita mempertemukan kemampuan tersebut dengan kebutuhan pemerintah, industri, masyarakat, serta ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, salah satu tugas kami sebagai pembinaan BRIN adalah bagaimana menjalankan fungsi-fungsi marketing agar produk-produk inovasi BRIN bisa diterima oleh pasar," tuturnya.
Dalam pemaparannya, Arif merinci sejumlah inovasi strategis yang dikembangkan BRIN, salah satunya di sektor energi untuk mengurangi ketergantungan impor LPG melalui teknologi pembawa gas alam domestik.

"Bapak Presiden, ada beberapa rangkuman yang ingin saya sampaikan terkait dengan inovasi BRIN. Dalam bidang energi, BRIN berusaha membangun kemampuan untuk mengurangi impor LPG melalui biofuel, energi, dan biomasa, dan limbah, energi terbarukan, baterai, dan infrastruktur energi. Salah satunya yang tadi sudah Bapak Presiden saksikan tentang absorb natural gas yang memungkinkan gas alam domestik disimpan dalam tekanan sekitar 30 bar lebih rendah dari CNG konvensional melalui teknologi Metal Organic Framework atau MOF yang ditemukan peraih Nobel 2025 yaitu Susumu Kitagawa. BRIN telah membangun Sister Lab bersama peraih Nobel dari Jepang itu. Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar 26 triliun rupiah per tahun terhadap beban subsidi LPG," jelasnya.
BRIN juga terus menguatkan kapabilitas teknologi di bidang kedirgantaraan, pertahanan keamanan, dan transportasi nasional guna mendukung kedaulatan wilayah serta efisiensi operasional.
"Di bidang kedirgantaraan, BRIN membangun kemampuan mulai dari desain teknologi pesawat, pesawat nirawak, satelit pengenderaan jauh, hingga teknologi antariksa. Pesawat N219 kini telah dilisensikan kepada PT Dirgantara Indonesia untuk diproduksi. Setelah itu, satelit NEO-1 yang merupakan produksi BRIN akan diluncurkan pada awal 2027. Ini penting untuk menghasilkan data citra satelit secara mandiri guna mendukung pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, serta pengawasan maritim. Pengembangan ini juga memberikan efisiensi biaya misi sekitar 71,9% dibanding benchmark misi sejenis," kata Arif.
"Di bidang pertahanan keamanan, BRIN membangun kemampuan mulai dari wahana nirawak, sistem kendali sensor, hingga material pendukung pertahanan keamanan. Salah satunya adalah alap-alap, pesawat nirawak fixed wing untuk misi, pemantauan, survei, dan pemetaan. Dengan kemampuan terbang hingga 6 jam dan jangkauan 100 km, platform ini dapat mendukung pengawasan wilayah yang lebih efisien," sambungnya.

"Di bidang transportasi, BRIN membangun kendaraan listrik, kapal, kereta api, hingga engine transisi energi. Desain kapal BRIN telah digunakan untuk kapal bea cukai dan juga kapal pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Setelah itu, BRIN juga mengembangkan engine flex fuel yang dapat menggunakan bensin maupun campuran etanol E20 hingga E40," lanjutnya.
Gna menunjang program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kesejahteraan masyarakat di sektor kelautan dan kesehatan, BRIN menghadirkan beragam teknologi terapan.
"Di bidang MBG dan pangan, BRIN membangun inovasi di seluruh rantai MBG, mulai dari bahan pangan, mesin pengolahan, kemasan, deteksi halal, distribusi, sampai monitoring berbasis AI. Salah satu contohnya adalah FoodGuard, perangkat yang ditempatkan pada ombreng untuk mendeteksi gas pembusukan dengan menggunakan multisensor dan model AI," terang Arif.
Pada sektor industri manufaktur dan pengolahan bahan tambang, BRIN fokus pada pengembangan produk alas kaki massal maupun pintar serta pemurnian mineral kritis.
Arif juga menyampaikan komitmen BRIN dalam menguasai seluruh rantai teknologi nuklir sejak dini serta menghadirkan inovasi infrastruktur lingkungan hidup, perumahan, hingga pelindungan pesisir Giant Sea Wall.
"Kemudian di bidang nuklir, kami berusaha menguasai seluruh rantainya, penambangan dan pemurnian uranium dan thorium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, meteorologi radiasi, sampai pengolahan limbah. BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulainya sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," pungkasnya.









