
Foto: Tangkapan Layar YouTube Kemendikdasmen
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mencanangkan "Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan".
Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk menjawab berbagai tantangan sistemik yang masih menghambat ruang gerak perempuan di Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa pencanangan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mengimplementasikan Asta Cita keempat Presiden RI terkait penguatan sumber daya manusia dan pengarusutamaan gender.
Hal itu disampaikan Abdul Mu'ti dalam kegiatan Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan di Kantor Badan Bahasa Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Rabu, 1 April 2026.
"Kami berkomitmen memberikan ruang yang lebih luas kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan mengembangkan potensi mereka. Ini selaras dengan visi besar memperkuat kualitas manusia Indonesia," ujar Abdul Mu'ti dalam sambutannya.
Dalam sambutannya, Abdul Mu'ti menyoroti berbagai hambatan yang masih ditemukan di lapangan, mulai dari aspek teologis hingga budaya. Ia mengkritisi pandangan yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat atau nomor dua berdasarkan interpretasi teologis tertentu.
"Masih ada kendala teologis, misalnya pendapat bahwa perempuan diciptakan hanya dari tulang rusuk laki-laki. Pandangan ini sering kali berimplikasi pada posisi perempuan yang dianggap subordinat," tuturnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kendala kultural yang masih kental di masyarakat bahwa tugas perempuan hanya terbatas pada '3M' (masak, macak, manak) dan '3-ur' (dapur, kasur, sumur).
"Stigma-stigma seperti ini tidak boleh terus terjadi. Faktanya, perempuan memiliki kemampuan luar biasa, termasuk dalam kekuatan memori detail dan kecerdasan logika yang sering kali dipandang sebelah mata melalui mitos-mitos psikologis," tambah Mu'ti.
Pendidikan dan Literasi sebagai Kunci
Sementara itu, Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menekankan bahwa pendidikan, bahasa, dan sastra memainkan peran sentral dalam membentuk kesadaran serta daya kritis perempuan.
Melalui penguatan literasi, diharapkan perempuan dapat berpartisipasi penuh dalam ranah politik, ekonomi, hingga sosial budaya.
"Bahasa dan sastra bukan sekadar alat komunikasi, tapi media untuk membentuk kesadaran dan ruang refleksi bagi kontribusi perempuan dalam kehidupan berbangsa," jelas Hafidz.
Editor: Redaktur TVRINews
