
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam kegiatan Kirab Pusaka Nusantara 2026 di Borobudur, Jawa Tengah (Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Magelang
Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebut kekuatan Borobudur ada pada tradisi dan ingatan kolektif masyarakat, bukan sekadar fisik candi.
Kementerian Kebudayaan RI melalui Museum dan Cagar Budaya serta Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) menggelar Kirab Pusaka Nusantara 2026 di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur, Jawa Tengah, Jumat, 17 April 2026.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 1.000 peserta ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Keris Nasional sekaligus Hari Warisan Dunia.
Acara ini menjadi momentum penting untuk menegaskan posisi Candi Borobudur sebagai warisan budaya yang hidup (living heritage), bukan sekadar situs arkeologi statis.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyatakan antusiasmenya.
Ia menekankan bahwa kirab ini merupakan perdana dilakukan di kawasan Candi Borobudur dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari budayawan, seniman, hingga masyarakat dari 20 desa penyangga.
"Penyelenggaraan kirab ini menegaskan bahwa kekuatan kawasan Borobudur tidak hanya terletak pada kemegahan candinya, tetapi juga pada pusaka tradisi, nilai luhur, ritual, seni, adat istiadat, dan ingatan kolektif yang masih dijaga oleh masyarakat," ujar Fadli Zon dalam pernyataan resminya, Sabtu, 18 April 2026.
Fadli berharap ke depannya Borobudur dapat menjadi pusat kegiatan budaya dan keagamaan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Kita berharap dengan hadirnya Candi Borobudur yang semakin baik pelayanannya, semakin dikenal, semakin ramah terhadap disabilitas, ramah terhadap mereka yang senior, dan tentu saja dari berbagai latar belakang," tambahnya.
Prosesi Kirab dan Simbol Keberlanjutan
Prosesi kirab dimulai dari Gerbang Beringin menuju Pelataran Kenari. Barisan peserta membawa berbagai pusaka nusantara sebagai simbol identitas budaya bangsa. Tak hanya parade fisik, rangkaian acara juga diisi dengan doa lintas agama dan ritual budaya yang khidmat.
Sebagai simbol keberlanjutan lingkungan dan budaya, dilakukan pula penyerahan bibit konservasi. Acara kemudian ditutup dengan tradisi umbul bojono atau kenduri (makan bersama), yang melambangkan kebersamaan dan harmoni antara pemerintah dan rakyat.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Bupati Magelang Grengseng Pamudji, Wakil Bupati Magelang Sahid, Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta jajaran direktur di lingkungan Kementerian Kebudayaan dan PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWC).
Selain itu, komunitas perkerisan yang tergabung dalam Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) turut hadir memperkuat substansi peringatan Hari Keris Nasional.
Melalui Kirab Pusaka Nusantara 2026, Kementerian Kebudayaan menargetkan peningkatan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian budaya.
Partisipasi aktif masyarakat desa penyangga diharapkan menjadi pondasi utama dalam mendorong pariwisata berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan di masa depan.
Editor: Redaksi TVRINews
