
Foto: Instagram @bakom.ri
Penulis: Fityan
TVRINews-Banda Aceh
Masyarakat Aceh Utara dan Tamiang gelar Meugang berbekal semangat gotong royong dan bantuan kemanusiaan.
Di bawah langit Desa Geudumbak yang perlahan pulih, aroma rempah dari Kuah Beulangong menyeruak di antara keriuhan warga.
Bagi masyarakat Aceh Utara dan Aceh Tamiang, Ramadan tahun ini bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah simbol ketangguhan setelah diterjang bencana yang sempat melumpuhkan wilayah tersebut.

Tradisi Meugang momen menyembelih ternak dan menyantap daging bersama keluarga yang sempat dikhawatirkan meredup akibat keterbatasan ekonomi pascabencana, justru menjadi titik balik solidaritas warga.
Di sela kepulan asap kawah besar, warga bahu-membahu memastikan tidak ada meja makan yang kosong menjelang bulan suci.
Solidaritas di Tengah Keterbatasan
Kegembiraan serupa menyelimuti Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. Bagi ratusan santri yang menetap di sana, harapan untuk merayakan Meugang sempat menipis.
Namun, suasana berubah haru saat bantuan tiba, memastikan tradisi turun-temurun ini tetap terjaga.
"Momen ini sangat berarti bagi kami. Di tengah masa pemulihan, semangat kebersamaan inilah yang menguatkan santri dan guru untuk menyambut Ramadan dengan hati yang tenang," ujar salah satu perwakilan pengelola pondok pesantren.

Sebanyak lebih dari 200 santri dan puluhan tenaga pendidik di pesantren tersebut dapat menikmati santapan daging bersama, sebuah kemewahan yang sempat diragukan kehadirannya di tengah masa sulit.
Dukungan Nasional untuk Pemulihan
Kelancaran tradisi tahun ini tidak lepas dari penyaluran bantuan kemasyarakatan yang masif. Presiden Prabowo Subianto menyalurkan bantuan berupa sapi Meugang sebagai bentuk dukungan langsung bagi warga Aceh yang terdampak bencana.
Bantuan ini merupakan bagian dari program kemanusiaan yang lebih luas, di mana sebanyak 1.455 ekor sapi didistribusikan ke 19 kabupaten/kota di seluruh Provinsi Aceh.

Dukungan tersebut dibarengi dengan komitmen bantuan sosial senilai Rp72,5 miliar yang dialokasikan untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan infrastruktur masyarakat setempat.
Melalui distribusi yang merata, daging-daging tersebut dibagikan kepada warga yang membutuhkan, menciptakan ruang syukur kolektif.
Di Aceh Utara, Meugang kali ini bukan lagi tentang sekadar makan besar, melainkan tentang bagaimana sebuah bangsa hadir di tengah masyarakatnya yang sedang berupaya bangkit.
Kini, dengan semangat yang kembali pulih, warga Aceh bersiap memasuki pintu Ramadan. Meugang telah menunaikan tugasnya: merekatkan kembali ikatan sosial yang sempat terkoyak bencana, membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, tradisi dan kepedulian tetap menjadi fondasi terkuat mereka.
Editor: Redaktur TVRINews
