
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Aceh
Upaya pemulihan pembelajaran pascabencana banjir terus dilakukan di berbagai wilayah Aceh. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, tetap berupaya memastikan kegiatan belajar mengajar tidak terhenti.
Sekolah menerapkan sistem pembelajaran paralel dengan menggabungkan sejumlah kelas menyusul rusaknya ruang belajar akibat banjir. Kebijakan ini diambil agar peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan meski kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih.
SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng memiliki 208 peserta didik yang didukung oleh 38 guru serta lima tenaga kependidikan. Sejak pekan kedua setelah banjir, seluruh warga sekolah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah yang terdampak.
“Kami bersama guru dan siswa membersihkan sekolah semampu kami, meskipun banyak dari kami juga menjadi korban banjir dan longsor,”kata Kepala SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Muhammad Rachmad Fadhli, dalam keterangan tertulis, Minggu, 25 Januari 2026.
Dari delapan ruang kelas yang dimiliki, hanya satu ruang yang dinyatakan siap digunakan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pihak sekolah memanfaatkan sejumlah ruangan lain, seperti perpustakaan, ruang kepala sekolah, laboratorium TIK, aula, serta ruang OSIS. Beberapa kelas juga digabung agar proses pembelajaran tetap berjalan.
Kegiatan belajar mengajar kembali dimulai pada Senin, 19 Januari 2026, meskipun masih dilakukan secara terbatas. Sejumlah fasilitas sekolah, khususnya meja dan kursi, rusak parah akibat terendam banjir.
“Untuk sementara, pembelajaran dilakukan tanpa meja dan kursi. Siswa belajar duduk di lantai dengan alas terpal,” ungkap Fadhli.
Selain pemulihan fisik, pihak sekolah juga melaksanakan kegiatan trauma healing bagi guru dan peserta didik sebagai bagian dari pemulihan psikososial pascabencana. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendukung kesiapan mental warga sekolah dalam mengikuti pembelajaran di tengah kondisi darurat.
Dalam masa pemulihan ini, SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng masih membutuhkan dukungan berkelanjutan, terutama untuk perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Sekolah memperkirakan kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal dalam waktu sekitar satu bulan.
Bantuan datang dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polres, Cabang Dinas Pendidikan, hingga mahasiswa. Gotong royong lintas elemen tersebut dinilai sangat membantu percepatan pemulihan sekolah.
“Bantuan dana yang diterima langsung kami gunakan untuk pembersihan. Alat berat juga sempat dikerahkan selama tiga hari,” ucapnya.
Sekolah juga telah menerima bantuan tenda yang direncanakan sebagai ruang belajar sementara. Namun, pemasangannya sempat tertunda karena kondisi halaman sekolah yang masih berlumpur.
“Tenda sudah disurvei oleh BPMP, tetapi saat itu belum bisa dipasang. Selain itu, kami juga mengajukan kelas darurat yang rencananya akan ditempatkan di lapangan futsal sekolah,” jelas Fadhli.
Ia menambahkan, meskipun bangunan sekolah masih dapat digunakan, kerusakan terjadi di banyak bagian.
“Dinding banyak yang retak, cat mengelupas, pintu dan jendela rusak bahkan ada yang copot. Lantai juga mengalami longsor karena ketinggian air banjir mencapai atap,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
