
Foto: Pemprov Jateng
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Pemerintah mulai memetakan sejumlah ruas jalan yang berpotensi menimbulkan gangguan saat arus mudik Lebaran 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan sekaligus dampak cuaca ekstrem di jalur nasional.
Menjelang musim mudik Lebaran 2026, pemerintah mengidentifikasi puluhan titik rawan kemacetan dan bencana di wilayah Jawa Tengah. Pemetaan ini dilakukan guna memastikan perjalanan masyarakat tetap lancar dan aman selama periode mudik.
Berdasarkan data Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DI Yogyakarta, dikutip Rabu, 4 Maret 2026, tercatat terdapat 46 titik rawan kemacetan serta 23 titik rawan bencana di jalur nasional wilayah Jawa Tengah.
Titik-titik kemacetan tersebut tersebar di jalur pantura, jalur tengah, hingga jalur selatan. Sebagian besar berada di sekitar kawasan pasar, perlintasan sebidang kereta api, persimpangan padat, serta akses keluar-masuk jalan tol.
Jalur pantura menjadi salah satu koridor paling vital karena dilalui kendaraan jarak jauh dari arah barat menuju timur Pulau Jawa. Selain kendaraan pribadi, jalur ini juga dipadati bus antarkota dan kendaraan logistik.
Selain potensi kemacetan, BBPJN juga mencatat adanya 23 titik rawan bencana yang terdiri dari 14 lokasi rawan banjir dan 9 lokasi rawan longsor.
Beberapa ruas yang berpotensi terdampak banjir antara lain Jalan Kaligawe di Semarang, kawasan Sayung di perbatasan Kota Semarang–Demak, Jalan Walisongo, serta ruas Kendal di jalur pantura.
Potensi genangan juga teridentifikasi di sejumlah titik lain, seperti Pemuda Brebes, Prupuk hingga batas Kabupaten Tegal/Banyumas, Sidareja–Simpang Tiga Jeruklegi, Sampang–Buntu, Klampok–Banjarnegara, Lingkar Selatan Klaten, serta Palur–Sragen.
Wilayah-wilayah tersebut umumnya berada di dataran rendah dan memiliki riwayat genangan saat hujan deras maupun banjir rob.
Sementara itu, titik rawan longsor mayoritas berada di jalur selatan dan wilayah perbukitan. Beberapa ruas yang masuk kategori rawan longsor di antaranya Batas Jawa Barat–Karangpucung–Wangon, Ajibarang–Wangon, Wangon–batas Banyumas/Cilacap, Patikraja–Rawalo, hingga batas Kota Banjarnegara–Wonosobo.
Kondisi tanah yang labil serta kontur wilayah yang berbukit menjadi faktor utama potensi longsor, terutama saat curah hujan meningkat.
Sebagai langkah antisipasi selama periode mudik, BBPJN menyiapkan 18 Posko Lebaran di berbagai jalur nasional di Jawa Tengah. Di wilayah pantura barat, posko ditempatkan di ruas batas Kabupaten Tegal/Kabupaten Brebes–Prupuk serta batas Kabupaten Tegal–Kabupaten Pemalang.
Sementara itu, di pantura bagian tengah dan timur posko disiagakan di kawasan Alas Roban, Jalan Walisongo, ruas batas Kota Semarang–batas Kota Demak KM 13+700, hingga batas Kabupaten Kudus/Pati–Simpang Tiga Lingkar Pati KM 66+300. Posko juga tersedia di Pemuda Rembang KM SMG 113+100.
Untuk jalur tengah dan selatan, posko ditempatkan di ruas Bawen–batas Kota Salatiga, Kartosuro–batas Kota Klaten, Purwokerto–Patikraja, Klampok–Banjarnegara, serta Wawar–Congot.
Setiap posko dilengkapi personel teknis serta berbagai peralatan untuk menangani gangguan lalu lintas maupun kerusakan jalan secara cepat.
Selain itu, BBPJN juga menyiagakan empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU) yang berlokasi di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta.
Peralatan yang disiapkan meliputi excavator, wheel loader, motor grader, dump truck kecil dan tronton, cold milling machine, asphalt finisher, hingga truk trailer.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai material tanggap darurat seperti rangka jembatan darurat bentang 30 meter, kawat bronjong, sand bag, sheet pile, serta material tambalan cepat untuk perbaikan jalan.
Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, pemerintah berharap arus mudik Lebaran 2026 dapat berlangsung lebih lancar serta meminimalkan potensi gangguan di jalur nasional.
Editor: Redaktur TVRINews
