
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah melepas sebanyak 10.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat untuk terlibat langsung dalam upaya pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra. Dimana, pelepesan ini dilakukan secara simbolis di Auditorium Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, sebagai bagian dari Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra.
Program ini dirancang sebagai respons atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025, yang menimbulkan dampak luas terhadap kondisi sosial, ekonomi, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengatakan keterlibatan mahasiswa menjadi elemen penting dalam fase pemulihan awal atau early recovery, yang kerap luput dari perhatian setelah masa tanggap darurat berakhir.
“Kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk membantu secara fisik, tetapi juga membawa solusi berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan empati agar masyarakat dapat pulih secara berkelanjutan,” ujar Brian kutip Kamis, 29 Januari 2026.
Lebih lanjut, ia menambahkan jika mahasiswa dipandang memiliki kemampuan adaptasi tinggi dan kedekatan sosial yang memungkinkan mereka menjembatani kebutuhan masyarakat dengan solusi sederhana namun tepat guna.
Sebanyak 10.000 mahasiswa tersebut berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan resmi, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Para peserta akan diterjunkan dalam tim multidisiplin dan menetap di lokasi terdampak selama kurang lebih satu bulan atau memenuhi minimal 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM).
Wilayah sasaran program meliputi sejumlah kabupaten di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Perguruan tinggi yang berada di wilayah terdampak diprioritaskan guna memastikan pendekatan yang sesuai dengan konteks lokal serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual berbasis riset dan inovasi.
Setiap kelompok mahasiswa didampingi dosen pembimbing untuk memastikan penerapan teknologi dan pendekatan yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Penempatan mahasiswa disesuaikan dengan tingkat kebutuhan di daerah terdampak. Jumlah mahasiswa terbanyak berada di Aceh Tamiang, Tapanuli Selatan di Sumatra Utara, dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat,” kata Fauzan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa membawa berbagai inovasi teknologi tepat guna hasil riset perguruan tinggi. Intervensi dilakukan di sejumlah sektor, mulai dari pemulihan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, penyediaan air bersih dan energi, hingga layanan kesehatan dasar dan pendampingan psikososial.
Program ini juga mengadopsi pendekatan social impact challenge, yakni pemberdayaan masyarakat berbasis permasalahan nyata di lapangan yang diselesaikan melalui kolaborasi lintas disiplin.
Kemdiktisaintek menegaskan program Mahasiswa Berdampak sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta menjadi bagian dari prioritas nasional dalam mendorong peran generasi muda bagi pembangunan dan pemulihan wilayah terdampak bencana.
“Kami ingin meninggalkan kapasitas, bukan ketergantungan. Mahasiswa hadir untuk membantu masyarakat bangkit dan melanjutkan kehidupan secara mandiri,” pungkas Menteri Brian.
Program Mahasiswa Berdampak diharapkan mampu menjadi contoh sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan sosial pascabencana secara berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews
