
TVRINews/Rifiana Seldha
Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng PT Garam dan Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) untuk mewujudkan swasembada garam nasional pada 2027. Pemerintah optimistis target tersebut dapat tercapai melalui perbaikan tata kelola produksi, pemanfaatan teknologi, serta sinergi lintas sektor industri.
Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Frista Yorhanita menyatakan swasembada garam membutuhkan perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir, sekaligus keterlibatan pelaku usaha dan investor.
“Kita optimis bahwa suasana medan garam 2027 itu akan tercapai. Untuk itu memang diperlukan perbaikan tata kelola mulai dari hulu sampai hilirnya,” ujar Frista saat memberikan closing statement dalam acara Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri di Gedung KKP, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam nasional.
“Nah ini tidak mungkin dilakukan sendirian oleh pemerintah dalam hal ini KKP. Maka dari itu kami pemerintah mengundang partisipasi seluas-luasnya untuk pihak luar seperti BUMN, pelaku usaha, bahkan investor untuk kita sama-sama mengembangkan garam Indonesia ini supaya kualitas dan kuantitasnya itu benar-benar bisa memenuhi semua kebutuhan terutama kebutuhan industri yang memang sampai saat ini belum dapat dipenuhi seluruhnya oleh garam luas,” katanya lebih lanjut.
Frista juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk mengatasi berbagai kendala produksi garam yang selama ini dihadapi petambak dan industri.
“Sehingga kami mau benar-benar mengajak semua pihak terutama pelaku usaha ataupun siapapun untuk mulai mengembangkan teknologi-teknologi yang memang bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada dalam produksi garam selama ini,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Garam Indra Kurniawan menyatakan pihaknya siap berkontribusi melalui pengembangan teknologi modern guna menjawab tantangan iklim yang memengaruhi kualitas dan kuantitas produksi garam nasional.
“Bahwa tantangan suasana medan garam nasional di tahun 2027 bukan hal yang tidak mungkin untuk kita capai ketika garam selaku pemilu usaha siap untuk mewujudkan itu semua,” ujar Indra dalam acara yang sama.
Menurutnya, PT Garam telah melakukan terobosan teknologi dengan pembangunan pabrik baru berbasis teknologi nonkonvensional.
“Yang mana teknologi sudah kita lakukan dengan adanya 3 pabrik groundbreaking, kita akan kembangkan lagi menjadi 7 [yang akan groundbreaking],” katanya.
“Tentunya dengan teknologi yang bukan konvensional tapi teknologi baru dengan MVR, SWRO hal itu membuktikan bahwa kita harus menunjukkan bahwa PT Garam selaku salah satu pelaku usaha di industri garam siap untuk mewujudkan itu semua,” lanjutnya.
Indra menambahkan, PT Garam akan terus berkolaborasi dengan pelaku industri, termasuk anggota GAPMMI, agar kebutuhan garam domestik dapat terpenuhi sepenuhnya dari produksi dalam negeri.
“Tentunya kita akan terus berkolaborasi dengan para konsumen, dengan dari anggotanya Pak Adik Lukman [Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI)] untuk bisa terus mewujudkan agar garam dalam negeri bisa memenuhi secara 100 persen kebutuhan para pelaku usaha,” ujarnya.
Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman menilai kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menjamin kepastian bahan baku bagi industri serta meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.
“Kolaborasi, dengan semangat Indonesia Incorporated sangat penting sekali untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pelaku usaha di Indonesia,” ujar Adhi.
Ia menambahkan kepastian pasokan garam akan membantu industri menghasilkan produk yang kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat.
“Memberikan rasa aman dan tentunya kepastian bahan baku. Salah satunya adalah garam, sehingga kita bisa menghasilkan produk-produk yang bisa berdaya saing dan terjangkau di dalam negeri, berdaya saing di pasar global,” katanya.
Adhi berharap pengembangan teknologi baru dapat menjadi terobosan untuk menjamin ketersediaan garam nasional, terutama di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu.
“Mudah-mudahan dengan teknologi, pengembangan teknologi baru ini bisa menjadi salah satu terobosan yang bisa menjamin ketersediaan garam di Indonesia terutama untuk mengatasi cuaca yang tidak menentu,” tuturnya.
Diwartakan sebelumnya, KKP menargetkan swasembada garam nasional pada 2027 dengan kebutuhan produksi sekitar 5 juta ton per tahun. Untuk memenuhi target tersebut, pemerintah mempercepat pengembangan tambak garam nasional di 10 zona wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan sentra industri garam nasional (K-SIGN).
Dalam kegiatan tersebut, KKP menyebut kebutuhan garam nasional diperkirakan mencapai 5,2 juta ton per tahun pada 2027. Namun saat ini sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan garam nasional masih dipenuhi melalui impor, sehingga diperlukan strategi khusus untuk menggantikan impor dan meningkatkan produksi domestik.
Pihak GAPMMI juga berharap pemerintah, khususnya KKP, dapat meningkatkan kualitas garam di tingkat petambak agar biaya lanjutan di industri pengolahan dapat ditekan dan daya saing produk nasional semakin meningkat.
Editor: Redaktur TVRINews
