
Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi (Foto: Kemenhub RI)
Penulis: Fityan
TVRINews- Jakarta
Pemerintah konfirmasi lokasi jatuh di Gunung Balusaraung dan proses evakuasi korban tengah berlangsung.
Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, memaparkan secara rinci kronologis kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport.
Insiden tersebut terjadi saat pesawat sedang menjalankan misi pemantauan perairan untuk kepentingan negara.
Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa 20 Januari 2026, Dudy menjelaskan bahwa pesawat tersebut sedang dalam status carter oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pesawat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dengan membawa 10 orang, yang terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 personel KKP.
Kehilangan Kontak di Jalur Pendekatan
Berdasarkan data navigasi, gangguan mulai terdeteksi saat pesawat mendekati wilayah udara Sulawesi Selatan.
Petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Control/ATC) di Makassar sempat memberikan instruksi pendaratan sebelum komunikasi terputus.
“Pukul 12.23 WIT, MATSC mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke Runway 21, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin,” ujar Dudy sebagaimana dikutip dari kanal YouTube TV Parlemen.
Namun, petugas ATC mengidentifikasi bahwa pesawat keluar dari jalur pendekatan yang seharusnya.
Meski instruksi koreksi posisi telah diberikan, pesawat gagal kembali ke jalur pendaratan hingga akhirnya kehilangan kontak. Fase darurat segera dideklarasikan menyusul putusnya komunikasi tersebut.
Operasi SAR dan Identifikasi Lokasi.
Upaya pencarian terpadu yang melibatkan tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri baru bisa dimaksimalkan pada Minggu 18 Januari 2026.
Penggunaan teknologi nirawak (drone) milik TNI Angkatan Udara menjadi kunci dalam menemukan titik jatuh di medan yang sulit.
“Tim SAR Gabungan mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan di wilayah Gunung Balusaraung,” jelas Menhub.
Tak lama berselang, puing-puing besar yang diyakini sebagai bagian badan dan ekor pesawat ditemukan di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih terus berjalan di tengah tantangan geografis dan cuaca yang ekstrem. Menhub mengonfirmasi bahwa satu jenazah laki-laki telah ditemukan dan dievakuasi pada Minggu siang.
Kendala Cuaca di Lokasi Kejadian
Dudy mengakui bahwa operasi penyelamatan menghadapi hambatan besar akibat faktor alam. Saat melakukan tinjauan langsung ke posko di Kecamatan Balocci, kondisi awan tebal dan hujan terus-menerus membatasi ruang gerak tim penyelamat.
“Kondisi cuaca di lokasi cukup tebal awannya. Dari pagi hingga sore hujan, sehingga sangat menyulitkan tim penyelamat dalam melaksanakan pekerjaannya,” tutur Dudy.
Pemerintah melalui Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini tengah mengumpulkan data lebih lanjut untuk menginvestigasi penyebab pasti penyimpangan jalur pesawat sebelum terjatuh.
Editor: Redaktur TVRINews
