
Kapal induk USS Abraham Lincoln melintasi Selat Hormuz (Foto: Angkatan Laut AS Via AP News)
Penulis: Fityan
TVRINews - Teheran
Teheran melaporkan perkembangan positif dalam pembentukan kerangka kerja dialog saat pengerahan militer AS di Teluk terus berlanjut.
Pejabat tinggi keamanan nasional Iran menyatakan bahwa pengaturan untuk negosiasi dengan Amerika Serikat mulai menunjukkan kemajuan.
Perkembangan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk menyusul penguatan kehadiran militer Washington.
Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengungkapkan melalui unggahan media sosial pada Minggu 1 Januari 2026, bahwa proses diplomasi tetap berjalan meski situasi di lapangan memanas.
"Berbeda dengan atmosfer perang media yang dibuat-buat, pembentukan struktur untuk negosiasi terus mengalami kemajuan," tulis Larijani tanpa merinci lebih lanjut mengenai kerangka kerja yang dimaksud.
Sinyal dari Washington
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan indikasi bahwa Teheran lebih memilih jalur kesepakatan daripada konfrontasi militer.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut adanya komunikasi yang sedang berlangsung.
"Mereka [Iran] sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa mencapai sesuatu.
Jika tidak, kita lihat apa yang terjadi... kami memiliki armada besar yang menuju ke sana," ujar Trump.
Ia juga menegaskan, "Mereka sedang bernegosiasi."
Ketegangan antara kedua negara telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Hal ini dipicu oleh ancaman berulang dari Washington terkait tindakan keras terhadap protes anti-pemerintah di Iran serta upaya AS untuk membatasi program nuklir Teheran.
Mobilisasi Militer di Selat Hormuz
Pemerintah AS telah mengerahkan armada angkatan laut yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln.
Langkah ini memicu kekhawatiran global akan kemungkinan terjadinya benturan militer secara langsung.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga telah mengeluarkan peringatan kepada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terkait rencana latihan angkatan laut di Selat Hormuz, jalur maritim krusial bagi perdagangan energi dunia.
"Setiap perilaku yang tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS atau kapal komersial akan meningkatkan risiko tabrakan dan eskalasi," tegas pihak CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengkritik kehadiran militer asing di dekat pesisir Iran.
Ia menilai kehadiran pasukan luar justru sering kali memicu ketidakstabilan dibandingkan deeskalasi.
Upaya Diplomasi Regional
Meskipun situasi digambarkan sangat rapuh, para analis melihat pernyataan Larijani sebagai sinyal positif.
Upaya diplomatik terus dilakukan oleh mitra regional untuk mencegah konflik terbuka.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani telah bertemu dengan Larijani di Teheran pada hari Sabtu 31 Januari 2026.
Dalam pernyataan resminya, pihak Qatar menegaskan kembali "dukungan terhadap semua upaya yang bertujuan mengurangi ketegangan dan mencapai solusi damai guna meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan."
Editor: Redaktur TVRINews
