Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Lampung
Berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk kawasan Teluk Betung Selatan, Masjid Jami' Al-Anwar bukan sekadar tempat ibadah. Masjid tertua di Provinsi Lampung ini merupakan saksi bisu awal mula masuknya syiar Islam dan pusat perjuangan rakyat melawan penjajahan.
Ketua Yayasan Masjid Jami' Al-Anwar, Haji M. Nasir Wahab, mengungkapkan bahwa sejarah masjid ini bermula dari kedatangan tiga bersaudara asal Bone, Sulawesi, yakni Muhammad Ali, Muhammad Saleh, dan Ismail. Mereka mendarat di kawasan pelabuhan yang kala itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang mancanegara hingga lokal.
Menurut Haji Nasir, penyebaran Islam di wilayah ini diawali melalui jalur dakwah yang persuasif. KH Saleh, salah satu dari tiga bersaudara tersebut, memiliki kedalaman ilmu agama dan mulai membuka pengajian di kediamannya yang kini dikenal sebagai kawasan Kampung Bugis.
"Awalnya dari pengajian di rumah. Lama-kelamaan peminatnya semakin banyak hingga rumah tidak lagi mampu menampung jamaah. Akhirnya, Muhammad Ali, Ismail, dan KH Saleh berunding untuk membangun sebuah surau besar agar bisa digunakan untuk salat Jumat," ujar Haji Nasir kepada tvrinews.com pada Sabtu 14 Februari 2026.
Surau itulah yang menjadi cikal bakal Masjid Jami' Al-Anwar. Pada masa awal, bangunan masjid sangat sederhana dengan tiang dari bambu betung, dinding geribik, dan atap rumbia. Di tempat ini pula, selain belajar agama, para tokoh agama dan masyarakat berkumpul untuk mengatur strategi melawan penjajah Belanda.
Tokoh Muhammad Ali juga dikenal memiliki karisma dan kesaktian. Haji Nasir menceritakan bagaimana Belanda sempat meminta bantuan Muhammad Ali untuk mengamankan perairan dari gangguan bajak laut (perompak).
"Belanda menawarkan senjata api (bedil), namun Muhammad Ali hanya mengambil pedang dan rantai. Dengan pendekatan persuasif dan kelebihannya, ia mampu meredam gangguan keamanan di laut tanpa pertumpahan darah," lanjutnya.
Atas jasanya, Muhammad Ali sempat ditawari jabatan sebagai Regen (pemimpin daerah) dan mempersunting gadis Lampung hingga diberi gelar Temenggung.
Salah satu ciri khas Masjid Jami' Al-Anwar yang paling ikonik adalah keberadaan enam pilar besar di bagian depan. Haji Nasir menjelaskan bahwa enam tiang tersebut bukan sekadar penyangga bangunan, melainkan simbol dari **Enam Rukun Iman**.
Meski sempat mengalami kerusakan akibat dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, semangat masyarakat tidak surut. Masjid ini dibangun kembali secara permanen pada tahun 1888. Selain pilar, jejak sejarah lainnya yang masih dipertahankan hingga kini adalah sebuah sumur tua yang memiliki nilai riwayat tinggi sejak zaman para pendahulu.
Hingga saat ini, pengelola yayasan terus berkomitmen menjaga warisan para pendahulu. Tradisi pengajian hadis setiap subuh terus dipertahankan tanpa henti sebagai bentuk estafet dakwah dari zaman Kampung Bugis hingga sekarang.
"Tugas saya sekarang adalah meneruskan apa yang sudah dimulai para pendahulu. Termasuk memperjuangkan legalitas aset seperti sertifikat dan pemagaran batas masjid agar warisan sejarah ini tetap terjaga untuk generasi mendatang," pungkas Haji Nasir.
Editor: Redaktur TVRINews
