
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Aceh
Suasana Ramadan terasa khidmat di halaman Masjid Raya Baiturrahman saat masyarakat menghadiri penutupan Aceh Ramadan Festival 2026 yang dirangkaikan dengan Khanduri Ramadan dan peringatan Nuzulul Qur’an.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Tito Karnavian yang hadir dalam kegiatan tersebut turut memukul bedug sebagai penanda dimulainya buka puasa bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan santap berbuka dan salat Magrib berjamaah di kompleks masjid.
Dalam kesempatan itu, Tito mengatakan peringatan Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bagi umat Islam tentang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, yakni Surah Al-Alaq.
“Sekarang kita bisa berkumpul di masjid kebanggaan kita dalam suasana Ramadan di malam Nuzulul Qur’an. Wahyu pertama yang diturunkan adalah Surah Al-Alaq, Iqra' bismi rabbikalladzî khalaq,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Sabtu, 7 Maret 2026.
Di tengah kegiatan tersebut, Tito juga menyampaikan perkembangan penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang menurutnya menunjukkan kemajuan signifikan.
Ia menjelaskan bencana yang terjadi sebelumnya berdampak pada 52 kabupaten dan kota di tiga provinsi tersebut. Sejak hari pertama kejadian, pemerintah pusat langsung mengerahkan berbagai unsur untuk membantu penanganan darurat.
Personel TNI, Polri, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana diterjunkan ke lapangan untuk membantu masyarakat terdampak, termasuk menjangkau wilayah yang akses jalannya terputus akibat banjir dan kerusakan infrastruktur.
“Karena kecintaan saya pada Aceh, hari ini saya melihat situasinya sudah jauh lebih baik dibandingkan saat saya datang pada 29 November lalu,” kata Tito.
Menurut Tito, kondisi wilayah terdampak kini jauh lebih baik dibandingkan saat awal bencana pada akhir November. Pasokan listrik yang sebelumnya baru pulih sekitar 50 persen kini hampir sepenuhnya kembali di sebagian besar wilayah terdampak.
Selain itu, jaringan internet yang sempat terputus kini mulai kembali normal. Distribusi logistik ke wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah juga berangsur membaik, sementara aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat mulai bergerak kembali.
“Aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat pun mulai kembali berjalan,” ucap Tito.
Meski demikian, pemerintah masih terus melakukan penanganan di sejumlah wilayah yang terdampak banjir lumpur dan longsor, terutama di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Bireuen.
Penanganan juga difokuskan di daerah pegunungan seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah yang masih mengalami kerusakan jalan serta jembatan sementara.
Tito mengatakan pemerintah telah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada masyarakat terdampak bencana, mulai dari bantuan perbaikan rumah hingga bantuan langsung kepada warga.
“Rumah yang rusak ringan diberikan bantuan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta. Kemudian bantuan perorangan berupa uang lauk pauk Rp15 ribu per hari, bantuan perabotan Rp3 juta, serta stimulan ekonomi Rp5 juta,” tutur Tito.
Ia menyebut total bantuan tahap pertama yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp900 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp400 miliar dialokasikan untuk wilayah Aceh, termasuk Rp241,6 miliar yang disalurkan di Pidie Jaya.
Selain bantuan pemulihan, pemerintah juga menyalurkan bantuan perlengkapan ibadah kepada masyarakat terdampak, seperti perlengkapan salat dan Al-Qur’an wakaf.
“Ada 5.000 peralatan salat. Kemudian Al-Qur’an wakaf dari Bapak Presiden yang totalnya 70 ribu, namun hari ini kita bagikan 5.000 di sini. Ada sajadah, sarung, dan mukena. Insyaallah bisa bermanfaat dan diberikan kepada yang berhak,” kata Tito.
Editor: Redaktur TVRINews
