
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Indonesia tercatat memiliki 718 bahasa daerah berdasarkan pemetaan vitalitas bahasa sejak 2019, menjadikannya negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Namun, sejumlah bahasa tersebut kini berada dalam kondisi rentan, terancam punah, hingga kritis.
Untuk menjawab tantangan itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), terus menggencarkan Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dengan menyasar generasi muda sebagai garda terdepan pelestarian bahasa.
Hingga 2025, sebanyak 120 bahasa daerah di 38 provinsi telah direvitalisasi melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan masyarakat.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab bersama agar tetap hidup dan digunakan oleh generasi penerus.
“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda,” ujar Hafidz dalam keterangan tertulis, Jumat, 20 Februari 2026.
Kegiatan tersebut diikuti 135 peserta secara luring dan digelar secara hibrida serta disiarkan melalui kanal YouTube Badan Bahasa.
Menurut Hafidz, bahasa ibu tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi penghubung sejarah, nilai budaya, serta karakter bangsa. Ia mengingatkan bahwa hilangnya satu bahasa daerah berarti hilangnya sebagian identitas bangsa.
Senada dengan itu, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Ananto Kusuma Seta, menyoroti sejarah lahirnya Hari Bahasa Ibu Internasional yang berakar dari perjuangan bahasa di Bangladesh. Ia menegaskan peran strategis pemuda dalam membentuk masa depan pendidikan multibahasa.
“Bahasa ibu adalah fondasi literasi dan pendidikan multibahasa. Bahasa daerah memperkuat bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Di saat yang sama, generasi muda juga perlu menguasai bahasa asing agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas nasional,”ungkap Ananto.
Perwakilan UNESCO Indonesia, Gunawan Zakki, turut menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian bahasa daerah. Menurutnya, anak muda memiliki kemampuan berjejaring dan berkreasi, termasuk melalui konten digital yang dapat menjadi medium efektif memperkenalkan bahasa daerah.
Praktik Baik Penerapan Bahasa Ibu di Sekolah
Penerapan bahasa ibu dalam pembelajaran juga menunjukkan hasil positif di sejumlah daerah. Bupati Sumba Timur, Umbu Lili, menyampaikan bahwa rendahnya literasi menjadi salah satu faktor tingginya angka putus sekolah saat transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama.
Melalui kerja sama dengan program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), pemerintah daerah menerapkan kebijakan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas awal.
“Hasilnya signifikan. Kemampuan membaca siswa meningkat. Karena itu, kami menginstruksikan penggunaan bahasa daerah di kelas awal dengan dukungan guru senior yang menguasai bahasa setempat,”kata Lili.
Pengalaman serupa disampaikan Kepala SDN Aebowo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Maria Ugha. Ia menjelaskan bahwa mayoritas siswa kelas awal belum memahami bahasa Indonesia karena sehari-hari menggunakan bahasa ibu.
Saat pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, siswa cenderung tidak merespons dan mengalami kesulitan memahami materi. Sekolah kemudian menyesuaikan metode dengan menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar pembelajaran.
Melalui pelatihan bersama INOVASI, guru didampingi untuk menerapkan strategi pembelajaran berbasis bahasa daerah melalui metode bermain, bernyanyi, kartu huruf, membaca gambar, hingga menulis secara bertahap. Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih aktif dan kemampuan literasi dasar siswa meningkat.
Sementara itu, Duta Bahasa Provinsi Bali 2025, Ida Ayu Alit Srilaksmi, memperkenalkan inovasi aplikasi PARASALI (Pelindungan Bahasa dan Sastra Bali). Aplikasi berbasis edutainment tersebut mengintegrasikan kamus, permainan, serta lagu berbahasa Bali guna menarik minat generasi muda terhadap aksara dan sastra Bali. Hingga 2026, aplikasi itu telah digunakan oleh 61.628 pengguna.
Melalui peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2026, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya memperkuat pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu, mendorong partisipasi aktif generasi muda, serta memastikan bahasa daerah tetap hidup dalam ekosistem pendidikan nasional demi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Editor: Redaktur TVRINews
