
dok. Kemensos
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa penerapan transformasi budaya kerja dan efisiensi energi di lingkungan Kementerian Sosial tidak boleh berdampak pada menurunnya kualitas layanan kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Ipul saat memimpin rapat dinas bersama jajaran Eselon I dan II, kepala biro, kepala sentra dan balai se-Indonesia, serta staf khusus dan tenaga ahli menteri, baik secara luring maupun daring di Kantor Kemensos, Jakarta.
“Negara sedang bertransformasi menuju produktivitas yang lebih efisien,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 April 2026.
Ia menjelaskan, kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah terkait perubahan pola kerja, termasuk penerapan bekerja dari mana saja pada hari Jumat serta penghematan energi di lingkungan instansi.
Meski demikian, Gus Ipul mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh diartikan sebagai pengurangan komitmen dalam memberikan pelayanan publik.
“Prinsip kita adalah Kemensos hemat, layanan tetap hebat. Jangan ada layanan yang libur ketika WFH,” tegasnya.
Menurutnya, berbagai program prioritas seperti bantuan sosial, rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, penanganan bencana, operasional Sekolah Rakyat, hingga layanan pengaduan masyarakat harus tetap berjalan optimal. Ia pun meminta seluruh unit kerja menyesuaikan pola kerja tanpa menghentikan layanan kepada masyarakat.
Gus Ipul juga menginstruksikan pimpinan unit kerja untuk segera menyusun ulang pola kerja, dengan memilah aktivitas yang dapat dilakukan secara digital dan yang harus tetap dilaksanakan secara langsung.
Ia menambahkan, hari Jumat akan diarahkan sebagai “Jumat Produktif Digital”, yang dimanfaatkan untuk penyusunan laporan, evaluasi kinerja, rapat daring, hingga konsolidasi administrasi.
Selain itu, efisiensi juga diterapkan pada perjalanan dinas dan penggunaan fasilitas kantor. Ia meminta agar perjalanan dinas dikurangi, penggunaan kendaraan dinas dibatasi, serta konsumsi listrik, air, dan perangkat elektronik dikendalikan secara disiplin.
Gus Ipul menekankan bahwa efisiensi harus disertai hasil yang terukur, bukan sekadar slogan. Setiap unit kerja diminta menyusun langkah penghematan yang jelas, lengkap dengan indikator dan mekanisme evaluasi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan sistem pengawasan lebih ketat untuk memastikan kebijakan kerja fleksibel berjalan efektif.
“Sistem absensi akan dilengkapi dengan titik lokasi, bahkan akan ada check point tambahan di tengah hari untuk memastikan pegawai tetap bekerja dari lokasi yang telah ditentukan,”ungkap Robben.
Menurut Robben, langkah tersebut penting agar transformasi budaya kerja dapat berjalan akuntabel sekaligus menghasilkan efisiensi yang nyata.
“Supaya saat evaluasi, kita bisa menunjukkan hasil yang tidak hanya kualitatif, tetapi juga kuantitatif,”ucapnya.
Melalui kebijakan ini, Kemensos menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi budaya kerja nasional, dengan tetap menempatkan pelayanan kepada masyarakat sebagai prioritas utama.
Editor: Redaksi TVRINews
