
Foto: Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Lembaga Adat Tolaki (LAT) Basrin Melamba (Dok. TVRINews.com/Prasetyo Wibowo Ishadinata)
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Konawe
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Lembaga Adat Tolaki (LAT) Basrin Melamba menyebut nilai-nilai dalam tradisi Kalosara memiliki keterkaitan kuat dengan makna spiritual Ramadan bagi masyarakat Tolaki.
Tradisi tersebut mengajarkan kesucian hati, persatuan, serta semangat saling memaafkan yang sejalan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam.
Basrin yang juga dosen Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo serta Rektor Institut Agama Islam Rawa Aopa menjelaskan dalam tradisi masyarakat Tolaki, Ramadan dikenal sebagai wulan puasa atau Wula Moroha yang berarti bulan suci.
Menurutnya, puncak dari bulan suci tersebut adalah perayaan Idulfitri yang dalam tradisi lokal juga dimaknai melalui simbol kuliner khas bernama lapa-lapa.
“Dalam tafsir kebudayaan Tolaki, bulan suci itu digambarkan dalam konsep Kalosara yang di tengahnya terdapat wadah bernama Siwole Uwa sebagai simbol kesucian,” ujar Basrin kepada tvrinews.com, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan simbol tersebut mencerminkan prinsip ate pute penamoroha, yakni menjalankan amal dan saling memaafkan dengan hati yang bersih.
Selain itu, perayaan Idulfitri dalam masyarakat Tolaki juga identik dengan nilai silaturahmi yang dikenal melalui konsep medulu mepokoaso, yaitu berhimpun dan bersatu.
Menurut Basrin, nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya silaturahmi sebagai sarana mempererat persaudaraan antarumat.
“Silaturahmi itu mempertemukan orang untuk berinteraksi, sementara medulu berarti bersatu. Inilah yang menyatukan masyarakat Tolaki, bahkan menyatukan umat,” kata Basrin.
Basrin menambahkan nilai-nilai Kalosara juga mengajarkan toleransi antarumat beragama. Dalam praktiknya, perayaan Idulfitri di sejumlah kampung Tolaki tidak hanya dihadiri umat Islam, tetapi juga keluarga dan kerabat yang beragama lain.
Sebaliknya, ketika umat Kristiani merayakan Natal, keluarga Tolaki yang beragama Islam juga turut bersilaturahmi sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.
Menurutnya, tradisi tersebut lahir dari konsep Kalosara yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kekeluargaan, serta hubungan kekerabatan.
“Yang menyatukan mereka adalah keluarga. Karena itu, perayaan seperti Lebaran juga menjadi momentum mempererat hubungan kekeluargaan,” tutur Basrin.
Basrin menilai nilai-nilai dalam Kalosara memiliki relevansi dengan ajaran Islam, terutama dalam hal persatuan, silaturahmi, serta penguatan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews
