Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Anambas
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Anambas, mencicipi luti gendang adalah pengalaman kuliner yang tidak boleh dilewatkan.
Makanan khas daerah ini berupa roti goreng isi abon ikan, biasanya ikan tongkol atau tuna, yang dimasak dengan bumbu khas rempah-rempah Indonesia. Aromanya gurih, rasanya kaya, dan cocok dinikmati bersama kopi atau teh hangat di pagi hari.
Luti gendang banyak dijual di kedai kopi di wilayah Kepulauan Riau seperti Batam, Tanjungpinang, dan Karimun. Meski kini lebih dikenal sebagai makanan khas Batam, hidangan ini sejatinya berasal dari Anambas.
Nama “luti gendang” sendiri berasal dari dialek China-Melayu, di mana “luti” berarti roti, sementara “gendang” berasal dari kata “rendang” dalam bahasa Tarempa yang berarti digoreng.
Salah satu pelaku usaha luti gendang yang cukup dikenal di Anambas adalah Wiwidt, warga Kelurahan Tarempa, Kecamatan Siantan.
Ia merintis usaha ini sejak tahun 2011, meneruskan resep dari ibunya. Usahanya kini berkembang pesat dan bahkan menembus pasar mancanegara, termasuk ke negara tetangga, Singapura.
“Awalnya mama yang bikin, lalu saya yang teruskan. Sekarang sudah banyak yang pesan untuk oleh-oleh, dibawa ke Batam, Tanjungpinang, bahkan Jakarta,” ujar Wiwidt ketika ditemui oleh tvrinews.com, Sabtu, 21 Juni 2025.
Luti gendang buatannya dijual seharga Rp2.000 per biji. Ia juga menawarkan dalam bentuk paket, seperti isi 25 biji seharga Rp50.000.
Pesanan datang melalui pesan WhatsApp dan telepon, umumnya dari pelanggan tetap atau wisatawan yang pernah mencoba sebelumnya.
“Biasanya yang beli itu tamu dari luar. Kadang kami juga enggak tahu mereka dari mana, bisa dari Batam, Malaysia, atau Singapura. Tapi yang jelas, untuk oleh-oleh luti gendang ini selalu dicari,” ucap Wiwidt.
Untuk proses pembuatan, Wiwidt menjelaskan bahwa isi roti menggunakan ikan tongkol yang diasap, kemudian disuwir dan dimasak dengan bumbu.
Sementara kulit rotinya terbuat dari campuran tepung terigu, gula pasir, dan bahan pengembang. Dalam suhu ruang, luti gendang bisa bertahan hingga empat hari, dan akan lebih awet jika disimpan di kulkas.
Meski enggan menyebutkan secara pasti jumlah omzet dan modal, Wiwidt mengatakan usahanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarganya. Bahkan jika jadwal pengiriman kapal feri dan Pelni Bukit Raya beroperasi, jumlah produksi rotinya bisa melonjak tajam.
“Kalau pengiriman ke Singapura, biasanya bisa sampai ratusan biji sekali jalan,” tutur Wiwidt.
Luti gendang bukan sekadar camilan, tapi juga bagian dari identitas kuliner Anambas yang mulai dikenal luas hingga ke luar negeri.
Jadi, jika berkunjung ke Anambas, belum lengkap rasanya tanpa mencicipi makanan khas yang satu ini.
Editor: Redaktur TVRINews
