
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke tanah air terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten setiap tahunnya. Berdasarkan data terbaru dari BPS, total kunjungan wisman sepanjang tahun 2025 mencapai 15,39 juta kunjungan. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam kurun waktu enam tahun terakhir.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa tren positif ini mempertegas pemulihan pariwisata nasional yang semakin solid.
“Total kunjungan wisman mencapai 15,39 juta kunjungan atau meningkat di 2025 ini sebesar 10,80 persen jika dibandingkan tahun 2024. Capaian kunjungan wisman di 2025 ini merupakan capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir, atau sejak 2020,” ujar Ateng Hartono dalam keterangan pers di Jakarta, pada Senin 2 Februari 2026.
lebih lanjut, Ia mengungkapan bahwa pada bulan Desember 2025, kunjungan wisman tercatat menyentuh angka 1,41 juta kunjungan, atau naik 14,43 persen secara tahunan. Lonjakan di akhir tahun ini dipicu oleh momentum libur Natal dan Tahun Baru serta musim liburan internasional. Ateng menambahkan bahwa performa tahun 2025 sudah sangat mendekati kondisi normal sebelum pandemi melanda.
"Tahun 2019 sebelum pandemi, bedanya tinggal sedikit lagi. Pada 2019 kunjungan wisman mencapai 16,1 juta kunjungan,” katanya.
Ateng mengungkapkan bahwa meninjau dari asal negara, Malaysia masih menjadi penyumbang wisman terbesar dengan kontribusi 17,20 persen. Posisi selanjutnya diikuti oleh Australia sebesar 11,40 persen dan Singapura sebesar 9,90 persen. Secara kawasan, lebih dari 41 persen wisatawan yang masuk ke Indonesia berasal dari negara-negara ASEAN.
Selain peningkatan jumlah orang, BPS juga menyoroti aspek ekonomi dari kunjungan tersebut. Rata-rata wisman membelanjakan sekitar USD 1.267,07 selama berada di Indonesia. Menariknya, wisman asal Eropa mencatatkan pengeluaran rata-rata tertinggi sebesar USD 1.916,53 per kunjungan dengan durasi tinggal paling lama, yakni mencapai 16,75 hari.
Kenaikan signifikan ini memberikan dampak berganda pada sektor perhotelan, transportasi, hingga ekonomi kreatif di berbagai daerah tujuan wisata utama, serta memberikan kontribusi penting terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Editor: Redaktur TVRINews
