TVRINews, Jakarta
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih berada dalam jalur yang kuat dan stabil meskipun dunia tengah menghadapi berbagai ketidakpastian akibat dinamika geopolitik dan ekonomi global. Hal ini diungkapkan oleh Anggota DEN, Mochammad Firman Hidayat di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026 hari ini.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika pihaknya menilai situasi yang terjadi saat ini masih jauh dari gambaran krisis ekonomi seperti yang pernah dialami Indonesia pada akhir 1990-an.
Selain itu, ia mengatakan penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional masih terjaga dengan baik.
“Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis,” ujar Firman.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional masih menunjukkan kinerja yang positif. Pada triwulan pertama 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Di sisi lain, laju inflasi juga masih terkendali dengan angka 3,08 persen pada Mei 2026.
Selain indikator makro, DEN juga melihat sektor korporasi nasional berada dalam kondisi yang lebih sehat dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya. Salah satu indikatornya adalah menurunnya ketergantungan perusahaan terhadap utang luar negeri dalam denominasi dolar Amerika Serikat.
Data yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan posisi utang luar negeri swasta pada triwulan I 2026 berada di angka 191,4 miliar dolar AS atau turun 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Firman menilai kondisi tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko eksternal yang semakin baik, termasuk menghadapi fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian pasar global.
“Jadi di tengah ketidakpastian yang terjadi, mereka (perusahaan) mestinya cukup bisa mitigasi,” lanjutnya.
Meski optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional, DEN tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai risiko global yang masih berkembang. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah potensi kenaikan harga energi dunia yang dapat berdampak pada biaya produksi dan distribusi dalam negeri.
Menurut Firman, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi kemungkinan tersebut, terutama menjelang semester kedua tahun ini.
“Dan ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya. Kemudian di tengah ketidakpastian global ini saya kira confidence harus kita terus perkuat,” pungkasnya.
DEN menilai penguatan kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah situasi global yang masih penuh tantangan.










