
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Mengenyam pendidikan hingga ke luar negeri masih menjadi impian banyak anak Indonesia, terutama bagi mereka yang berasal dari daerah dengan keterbatasan akses dan ekonomi. Namun, kisah Lukas Norman Kbarek, putra asal Biak Numfor, Papua, membuktikan bahwa dukungan pendidikan yang tepat mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.
Lukas merupakan alumni Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) yang menempuh pendidikan di SMA Bhineka Tunggal Ika, Yogyakarta. Ia menyebut ADEM sebagai pengalaman yang mengubah hidupnya.
“Bagi saya, ADEM adalah program yang benar-benar mengubah hidup. Program ini membantu anak-anak Papua berkembang di lingkungan yang berbeda,”ujar Lukas dalam keterangan tertulis, Jumat, 20 Februari 2026.
Setelah lulus SMA, Lukas melanjutkan pendidikan melalui Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali. Perjalanan akademiknya terus berlanjut hingga ia berhasil meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menempuh studi magister di Lancaster University, Inggris.
Dalam waktu satu tahun, Lukas menuntaskan pendidikan dan meraih gelar Master of Laws (LL.M) di bidang Hukum Internasional. Kini, ia mengabdi sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kementerian Luar Negeri.
Menurut Lukas, perjalanan merantau dari Papua ke Jawa dan Bali mempertemukannya dengan banyak sosok inspiratif yang mendorongnya untuk terus berkembang.
“Saya bertemu banyak orang baik dan hebat yang membuat saya semakin termotivasi untuk meraih mimpi,”jelasnya.
Ketertarikannya pada hukum internasional berangkat dari kepedulian terhadap isu-isu di tingkat akar rumput. Ia menilai persoalan global seperti hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan perdamaian memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.
Semasa kuliah, Lukas juga aktif mengikuti berbagai forum internasional, di antaranya Asia Youth International Model United Nations 2018 di Thailand dan menjadi finalis Duta Muda ASEAN 2019. Ia berharap pengalamannya dapat menginspirasi generasi muda Papua lainnya.
“Saya berharap semakin banyak anak asli Papua menjadi sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,”tambahnya.
Komitmen Pemerintah Perluas Akses Pendidikan
Program ADEM sendiri telah berjalan sejak 2013 sebagai upaya pemerintah memperluas akses pendidikan. Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa ADEM menyasar tiga kelompok utama, yakni wilayah Papua, daerah khusus seperti wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta anak-anak pekerja migran melalui jalur repatriasi.
Hingga 2025, program ini telah menjangkau 4.616 murid dengan total realisasi anggaran mencapai Rp90 miliar. Capaian tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendidikan di berbagai daerah.
Suharti mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program, mulai dari dinas pendidikan hingga orang tua siswa.
“Tanpa kerja sama dan koordinasi yang kuat, program ADEM tidak akan berjalan optimal seperti yang kita harapkan,”ungkap Suharti.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra, menilai keberhasilan Lukas menjadi bukti konkret efektivitas ADEM sebagai intervensi pemerintah dalam memperluas akses pendidikan berkualitas.
Ia menegaskan bahwa setiap anak Indonesia, termasuk dari wilayah 3T, berhak memperoleh pendidikan yang berkelanjutan guna mewujudkan cita-cita.
Kisah Lukas menjadi gambaran bahwa dengan akses yang adil dan dukungan yang tepat, anak-anak dari berbagai penjuru negeri memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dan berkontribusi di tingkat global.
Editor: Redaktur TVRINews
