
Foto: Kemenbud
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan dialog dengan tim pemugaran dari Archaeological Survey of India (ASI) di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, untuk membahas tindak lanjut kerja sama konservasi dan pemugaran kompleks Candi Prambanan.
Dalam pertemuan tersebut, tim ASI memaparkan rencana dan pendekatan teknis yang dapat diterapkan dalam proses konservasi dan pemugaran sejumlah candi perwara di kawasan Prambanan.
ADG Conservation and World Heritage ASI, Janhwij Sharma, menjelaskan bahwa lembaga arkeologi India tersebut berdiri sejak 1861 dan saat ini mengelola ribuan monumen bersejarah, termasuk sejumlah situs warisan dunia.
Selain melakukan konservasi di India, ASI juga aktif memberikan dukungan teknis pemugaran pada berbagai situs penting di sejumlah negara seperti Kamboja, Laos, Vietnam, Uzbekistan, dan Mongolia.
Berdasarkan kunjungan lapangan awal yang dilakukan di kawasan Prambanan, tim ASI menilai beberapa candi perwara memerlukan upaya konservasi dan pemugaran lebih lanjut.
Salah satu metode yang diusulkan adalah metode anastylosis, yakni teknik pemugaran dengan memanfaatkan kembali batu-batu asli yang ditemukan di lokasi situs.
Melalui metode ini, struktur candi direkonstruksi menggunakan sebagian besar material asli, sementara penambahan batu baru dilakukan secara terbatas untuk kebutuhan struktural.
Tim ASI juga menyoroti tantangan utama dalam proses pemugaran, yakni elemen batu arsitektur yang tersebar di area situs. Kondisi ini membuat proses identifikasi batu yang berasal dari masing-masing candi menjadi lebih kompleks, sehingga membutuhkan tahapan dokumentasi serta pengelompokan tipologi batu secara cermat.
Karena itu, tahap awal pekerjaan akan difokuskan pada dokumentasi menyeluruh terhadap struktur candi serta komponen batu yang tersedia.
Untuk memastikan metode kerja yang tepat, tim ASI juga mengusulkan pelaksanaan proyek percontohan atau pilot project pada satu atau dua candi perwara terlebih dahulu.
Hasil proyek tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan metode pemugaran yang paling efektif sebelum pekerjaan dilanjutkan pada struktur lainnya secara lebih luas.
Menanggapi paparan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas pengalaman dan kontribusi internasional ASI dalam pemugaran situs warisan dunia.
Ia menekankan bahwa upaya pelestarian di kawasan Candi Prambanan perlu dilihat dalam konteks lanskap budaya yang lebih luas.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan bagian dari ekosistem sejarah yang juga mencakup situs penting di sekitarnya, seperti Candi Sewu dan Candi Plaosan, yang menunjukkan jejak akulturasi tradisi Hindu dan Buddha di Nusantara.
“Kompleks Prambanan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari satu lanskap budaya besar bersama Candi Sewu dan Plaosan. Karena itu, upaya konservasi yang kita lakukan tidak hanya memulihkan bangunan candi, tetapi juga menjaga keseluruhan ekosistem budaya di kawasan tersebut,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya yang diterima tvrinews.com, Selasa, 17 Maret 2026.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terbuka terhadap kerja sama internasional yang dapat memperkuat upaya konservasi situs-situs warisan budaya, khususnya di kawasan Prambanan.
“Kami menyambut baik kemungkinan kolaborasi ini agar proses konservasi candi-candi perwara dapat dipercepat, tentu dengan tetap mengikuti prinsip-prinsip pelestarian warisan budaya," ujarnya.
"Kami juga terbuka untuk memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk pendekatan digital dan kecerdasan buatan, untuk membantu mengidentifikasi dan menyusun kembali komponen batu candi,” sambungnya.
Lebih lanjut, Fadli menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen memperkuat kerja sama internasional dalam pelestarian warisan budaya dunia.
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam penjajakan kolaborasi strategis antara Indonesia dan India dalam upaya pelestarian situs warisan dunia di kawasan Candi Prambanan, sekaligus memperkuat hubungan budaya antara kedua negara.
Editor: Redaksi TVRINews
