
Ancaman Bom Gunakan Teknologi VPN, Identitas Pengirim Tak Terlacak
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Dunia penerbangan internasional kembali dikejutkan oleh kemunculan ancaman bom bermodus digital yang menargetkan maskapai Saudia Airlines. Pesawat dengan nomor penerbangan SVA5688 yang membawa 376 jemaah haji dari Jeddah ke Surabaya terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara, setelah otoritas menerima peringatan ancaman bom melalui saluran komunikasi virtual terenkripsi.
Ancaman tersebut bukan berasal dari jalur komunikasi konvensional. Menurut Kepala Kantor Otoritas Penerbangan Wilayah II Medan, Asri Santosa, pesan ancaman disampaikan melalui sistem suara berbasis jaringan terenkripsi menyerupai penggunaan VPN. Teknologi ini memungkinkan pelaku menyembunyikan identitas sepenuhnya, sehingga yang terlacak hanya lokasi umum asal pesan yakni India.
“Ini bukan telepon biasa. Modusnya direct speech, bukan melalui nomor telepon, sehingga pengirimnya tak terlacak secara teknis,” kata Asri.
Ia menyebut ancaman pertama kali masuk ke otoritas bandara Kuala Lumpur sebelum diteruskan ke pihak maskapai.
Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, menyampaikan bahwa pesan diterima oleh pilot dari Air Traffic Control (ATC) Oman pada pukul 06.45 WIB. Setelah dikonfirmasi ke manajemen maskapai, diputuskan bahwa pesawat harus mendarat darurat sesuai protokol keselamatan.
“Informasi ancaman kami terima dari ATC Oman. Maskapai memutuskan mendaratkan pesawat di Kualanamu setelah mendapat izin dari Menara Kontrol. Ini bagian dari prosedur mitigasi risiko,” ujar Whisnu.
Kepolisian menduga serangan ini berkaitan dengan insiden sebelumnya, di mana sebuah pesawat Saudia lainnya juga menerima ancaman bom melalui email saat mendarat di bandara yang sama. Dugaan sementara mengarah pada jaringan lintas negara yang kini memanfaatkan berbagai metode digital untuk menyampaikan ancaman teror.
“Pola ancaman dan asal komunikasinya identik, kemungkinan kuat berasal dari pihak yang sama. Saat ini kami koordinasi dengan Bareskrim dan Polda Metro Jaya untuk pelacakan lintas yurisdiksi,” tambah Whisnu.
Meski menegangkan, pesawat SVA5688 berhasil mendarat dengan selamat pukul 09.27 WIB. Setelah dipastikan aman, seluruh penumpang melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan pesawat pengganti SV5699 pada pukul 02.45 WIB dari Gate 5.
Peristiwa ini kembali membuka wacana tentang lemahnya sistem deteksi terhadap ancaman digital dalam dunia penerbangan, serta perlunya kerja sama internasional dalam menghadapi bentuk baru teror lintas negara yang memanfaatkan celah teknologi.
Baca Juga: Bang Doel Buka PRJ 2025: Target Perputaran Uang Lampaui Rp7 Triliun
Editor: Redaksi TVRINews
