
Foto: @bakom.ri
Penulis: Fityan
TVRINews-Polokarto,Sukoharjo
Program Gentengnisasi Menjadi Tumpuan Keberlanjutan Ekonomi Perajin Lokal di Sukoharjo
Di bawah naungan langit Polokarto, kepulan asap dari tungku-tungku pembakaran bukan sekadar tanda adanya aktivitas produksi.
Bagi ratusan warga di sentra industri genting tradisional Sukoharjo, Jawa Tengah, asap tersebut adalah simbol napas ekonomi yang terus berdenyut di tengah impitan zaman.
Selama puluhan tahun, tanah liat telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat. Pekerjaan fisik yang berat mulai dari memilah tanah, mencetak secara manual, hingga menjaga api di tungku pembakaran bukanlah beban, melainkan warisan turun-temurun yang menghidupi meja makan keluarga.
Kepastian dalam Setiap Cetakan
Bagi para perajin, kebahagiaan memiliki definisi yang sangat bersahaja: kemampuan untuk bekerja penuh selama enam hari dalam seminggu.
Keberadaan lembur bahkan dianggap sebagai sebuah kemewahan ekonomi. Hal ini memberikan rasa aman bagi stabilitas rumah tangga mereka, di mana penghasilan harian menjadi satu-satunya sandaran.
"Bisa terus bekerja dan melihat produksi berjalan adalah kepastian yang kami butuhkan untuk menghidupi keluarga," ujar salah satu perajin di sela kesibukannya menghaluskan permukaan tanah liat mentah.
Tantangan Pasar dan Harapan Baru
Namun, industri ini tidak sedang berada dalam kondisi puncaknya. Fluktuasi harga dan permintaan pasar yang tidak menentu sering kali membuat ritme produksi melambat.
Di sinilah program "Gentengnisasi" muncul sebagai secercah cahaya bagi industri kerakyatan ini.
Program tersebut diproyeksikan tidak hanya untuk menggenjot angka penjualan, tetapi lebih kepada memberikan perlindungan bagi keberlangsungan usaha mikro yang padat karya.
Bagi masyarakat Polokarto, inisiatif ini adalah jembatan untuk memastikan bahwa tradisi mengolah tanah tidak padam ditelan modernisasi material bangunan pabrikan.
Lebih dari Sekadar Angka
Secara jurnalistik, geliat di Polokarto adalah cermin dari ketangguhan ekonomi akar rumput. Kebangkitan produksi genting lokal bukan lagi soal statistik pertumbuhan ekonomi semata, melainkan tentang menjaga martabat perajin kecil dan memastikan warisan leluhur tetap mampu memberikan penghidupan yang layak bagi generasi mendatang.
Keberlanjutan industri ini adalah bukti bahwa di tengah gempuran teknologi, tangan-tangan terampil yang berlumur tanah tetap menjadi pilar penting bagi kemandirian ekonomi daerah.
Editor: Redaktur TVRINews
