
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa sejumlah negara, termasuk Filipina dan India, menunjukkan minat untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia. Minat tersebut muncul seiring kondisi produksi nasional yang saat ini mengalami surplus.
Dalam keterangannya, Airlangga menjelaskan bahwa kelebihan produksi pupuk dalam negeri membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor ke berbagai negara.
“Pupuk kita mengalami surplus, sehingga beberapa negara seperti India, Filipina, maupun Australia menyampaikan permintaan kepada Indonesia,” ujar Airlangga, Kamis, 23 April 2026.
Ia menambahkan, daya saing pupuk Indonesia turut dipengaruhi oleh harga yang kompetitif. Hal ini didukung kebijakan pemerintah dalam menetapkan harga gas untuk industri pupuk di kisaran 6 dolar AS per MMBTU guna menjaga stabilitas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Meski demikian, pemerintah hingga saat ini baru menyetujui ekspor pupuk urea ke Australia. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan persetujuan ekspor sebanyak 250 ribu ton ke negara tersebut.
“Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki resiliensi di sektor pangan, terutama karena ketersediaan pupuk dalam negeri masih aman,” kata Airlangga.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebelumnya menyebutkan bahwa total permintaan dari beberapa negara seperti India, Filipina, Thailand, dan Brasil mencapai sekitar 1 juta ton pupuk urea. Hal itu sejalan dengan produksi nasional sebesar 7,8 juta ton, yang melebihi kebutuhan domestik sebesar 6,3 juta ton.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ekspor tetap dilakukan secara selektif agar keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan potensi ekspor tetap terjaga.
Editor: Redaksi TVRINews
