
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani (TVRInews/Rifiana Seldha)
Penulis: Rifiana Seldha
TVRInews, Jakarta
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan pentingnya pendampingan psikolog atau ahli kejiwaan profesional di lingkungan sekolah. Menurutnya, langkah tersebut mendesak dilakukan menyusul maraknya kekerasan serta persoalan kesehatan mental yang dialami peserta didik.
Pernyataan itu disampaikan Lalu Hadrian saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
“Sekolah harus didampingi oleh psikolog atau ahli kejiwaan yang profesional,” ujar Lalu menegaskan.
Ia menyampaikan, Komisi X DPR RI telah berulang kali mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar sekolah tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memahami dan memantau kondisi psikis setiap siswa.
“Di beberapa kesempatan kami selalu mengatakan bahwa sekolah hari ini wajib mengetahui kondisi psikis dari masing-masing siswa-siswa,” katanya.
Legislator Lalu menilai, berbagai bentuk kekerasan di dunia pendidikan baik verbal, fisik, maupun seksual telah menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental anak. Karena itu, pendampingan profesional dinilai menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan bagi keluarga besar di lingkungan sekolah.
“Akibat kekerasan yang hari ini terjadi, baik kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun kekerasan seksual, sekolah harus mendapat pendampingan yang tepat,” tegasnya.
Pendampingan tersebut, lanjut Lalu, dapat dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari kehadiran psikolog di sekolah hingga pelatihan guru agar mampu mendeteksi sejak dini persoalan kesehatan mental siswa.
“Apakah itu melalui pelatihan guru, pendampingan, dan sebagainya, ini harus dilakukan. Karena ini sudah kondisinya sangat darurat sekali,” ucapnya.
Diketahui sebelumnya, peristiwa nahas terjadi pada anak berusia 10 tahun YBR, siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia diduga gantung diri. Peristiwa tersebut diduga dipicu rasa kecewa karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Kasus ini memicu keprihatinan luas serta mendorong perhatian terhadap pentingnya pendampingan kesehatan mental bagi anak di lingkungan sekolah.
Editor: Redaksi TVRINews
