TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor kesehatan tidak dapat dilakukan sembarangan karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
Hal itu disampaikan Dante saat membuka Konferensi Nasional tentang ekosistem AI kesehatan di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Menurut Dante, penggunaan AI dalam layanan kesehatan bukan hanya persoalan kemajuan teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab etik dan keselamatan manusia.
“Ketika sebuah program komputer merekomendasikan diagnosis kepada dokter, siapa yang bertanggung jawab jika rekomendasinya salah,” ujar Dante dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menilai penerapan AI harus dibarengi tata kelola yang kuat, regulasi yang adaptif, serta komitmen etika agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara aman dan bertanggung jawab.
Dante mengakui AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, mulai dari mendeteksi penyakit lebih dini, mempercepat proses diagnosis, hingga membantu pengolahan data kesehatan dalam jumlah besar.
Namun di sisi lain, teknologi tersebut juga memiliki risiko seperti kesalahan diagnosis, hasil analisis yang bias, hingga ancaman terhadap keamanan data pribadi pasien.
Menurut Dante, pemanfaatan AI di sektor kesehatan Indonesia sebenarnya sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak 2023, Kementerian Kesehatan telah memanfaatkan teknologi AI untuk mendeteksi tuberkulosis (TB) melalui alat rontgen portabel berbasis AI. Hingga 2025, sekitar 200 ribu masyarakat telah menjalani pemeriksaan menggunakan teknologi tersebut.
Selain itu, uji coba AI dalam deteksi kanker paru bersama Harrison.ai menunjukkan tingkat akurasi mencapai 90 persen, lebih tinggi dibanding pembacaan radiologi tanpa bantuan AI yang berada di angka 83 persen.
Sementara pada deteksi stroke melalui CT scan otak bersama RSUP Dr. M. Djamil dan RS Pusat Otak Nasional, tingkat ketepatan AI dalam memastikan pasien sehat mencapai 98 persen, dibandingkan 74 persen pada pembacaan manual.
Adapun pada skrining TB massal bersama Qure.ai, dari 38 ribu pemeriksaan AI berhasil mendeteksi sekitar 4 ribu kasus dugaan TB dan menemukan 12 ribu kelainan paru lainnya.
“AI tidak hanya mendeteksi satu penyakit, tetapi membuka peluang lebih besar dalam menjaga keselamatan dan kesehatan pasien,”jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan inovasi teknologi harus berjalan seiring dengan pengawasan dan tata kelola yang baik agar risiko penyalahgunaan dapat diminimalkan.
Konferensi bertajuk “Menuju Masa Depan Ekosistem Kecerdasan Buatan Kesehatan yang Aman, Adil, dan Bertanggung Jawab” itu juga membahas tata kelola data, persetujuan pasien, hingga penguatan komite etik penelitian kesehatan dalam penggunaan AI.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara kerja dan pelayanan kesehatan di berbagai negara.
Menurut Azhar, AI kini dimanfaatkan untuk membantu diagnosis penyakit, pengembangan terapi yang lebih personal, hingga penggunaan robot dalam pelayanan kesehatan.
Ia menegaskan keamanan data masyarakat harus menjadi perhatian utama. Karena itu, Kementerian Kesehatan membentuk platform SATUSEHAT dan SATUSEHAT AI untuk menjaga data kesehatan masyarakat Indonesia agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.










