
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Christina Aryani (TVRINews/HO-KemenP2MI)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Christina Aryani memaparkan strategi pemerintah dalam memperluas peluang kerja sekaligus meningkatkan daya saing pekerja migran Indonesia (PMI) di pasar global. Hal itu disampaikan Christina saat menjadi keynote speaker dalam Indonesia Economic Summit (IES) di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan PMI memiliki kualitas, keterampilan, dan perlindungan yang memadai agar mampu bersaing dan memperoleh kesejahteraan lebih baik di luar negeri.
"Sebagaimana mandat yang diberikan kepada kami, kami ingin pekerja migran Indonesia memiliki kualitas yang baik di luar negeri. Kami juga ingin mengoptimalkan penempatan agar mereka memiliki kesempatan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan," ujar Christina dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, terdapat dua mandat utama dari Presiden Prabowo Subianto dalam pembentukan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia pada 2024.
Pertama, memperkuat pelindungan PMI sebelum, selama, dan setelah penempatan. Kedua, meningkatkan kualitas dan kapasitas PMI melalui pelatihan vokasi serta program peningkatan keterampilan.
Kemudian, Christina juga menyoroti peluang besar yang dimiliki Indonesia melalui bonus demografi. Pada 2025, jumlah penduduk usia produktif Indonesia mencapai sekitar 183 juta jiwa. Sementara itu, banyak negara tujuan penempatan PMI justru menghadapi masalah penuaan penduduk dan kekurangan tenaga kerja.
Di sisi lain, potensi penempatan ke luar negeri masih belum tergarap optimal. Dari sekitar 350 ribu peluang kerja yang tercatat dalam sistem Kementerian P2MI, baru 17,5 persen atau sekitar 62 ribu yang terpenuhi. Padahal, sepanjang 2025 Indonesia telah menempatkan lebih dari 297 ribu pekerja migran ke berbagai negara.
"Untuk menjawab peluang itu, pemerintah telah menetapkan delapan strategi pengembangan kesempatan kerja dan peningkatan daya saing pekerja migran Indonesia," ungkapnya.
Salah satu strategi tersebut adalah penguatan calon PMI melalui pembentukan Migrant Center di perguruan tinggi. Saat ini, sekitar 10 universitas telah bekerja sama dengan Kementerian P2MI untuk mempersiapkan calon pekerja migran agar lebih siap dan kompeten.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan program SMK Go Global yang bertujuan menyiapkan lulusan SMK agar memiliki kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara internasional, serta memperoleh akses kerja luar negeri yang prosedural dan terlindungi.
"Program ini menargetkan 500 ribu peserta, terdiri dari 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu peserta dari masyarakat umum, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto," ucapnya.
Dari sisi pembiayaan, Kementerian P2MI juga memperkuat dukungan melalui Kredit Usaha Rakyat Pekerja Migran (KUR PMI). Saat ini, kementerian telah bekerja sama dengan 17 bank dengan total plafon mencapai Rp331 miliar.
"KUR Pekerja Migran ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penempatan, seperti tiket pesawat, pemeriksaan kesehatan, dokumen, pelatihan, dan sertifikasi. Program ini dijadwalkan diluncurkan serentak pada Maret 2026," jelasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
