
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau dikenal AI yang dinilai dapat menjadi alat baru dalam mempengaruhi opini publik.
Mantan Menhan tersebut menilai, jika AI memiliki praktik manipulasi dan upaya dalam melemahkan bangsa yang sudah terjadi sejak lama bahkan melibatkan pihak dari dalam negeri sendiri.

“Fenomena ini memang sudah ratusan tahun selalu ada, saudara-saudara kita dari bangsa kita sendiri yang juga mempermudah bangsa asing itu menjajah kita merampok kekayaan kita itu suadara kita juga jadi ini bukan fenomena baru. Ini biasa,” kata dia pada Rabu, 8 April 2026.
Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut ia juga menyinggung terkait sifat dasar manusia seperti iri hati dan kebencian yang kerap menjadi pemicu konflik, termasuk dalam konteks penyebaran informasi.
“Bibit-bibit dengki, iri, sirik itu bagian dari manusia ya. Kebencian dendam sakit hati ini dan memang ada itu ada kita tidak boleh, istilahnya kaget yang sekarang jadi masalah sedikit adalah teknologi bahwa yang sekarang dengan teknologi AI kecerdasan buatan dengan teknologi informatika digital satu orang dia bisa punya 1000 akun dia bisa beli alat-alat tidak terlalu mahal yang dari 1000 ini bisa diperbanyak lagi seolah-olah jadi saudara-saudara yang agak repot mungkin 100 orang, 1000 orang bisa bikin heboh nah ini namanya eco chamber ada dalam pelajaran-pelajaran inteligen itu ada bagaimana mau merusak sebuah negara lain,” terangnya.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa pola serangan terhadap suatu negara kini telah berubah. Jika dahulu dilakukan secara fisik, kini bisa melalui ruang digital.

“Dulu, kirim pasukan kirim bom. Sekarang? Tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosial media. Dengan fitnah hoaks. AI bisa membuat seorang bicara yang dia ngga bicara gitu lho,” tegasnya.
Ia pun mengaku pernah mengalami langsung dampak dari teknologi tersebut, di mana suaranya dimanipulasi menggunakan AI.
“Saya sering tuh, suara saya jelek saya ndak bisa nyanyi ada di youtube Prabowo nyanyi suaranya bagus banget saya kaget, boleh juga nih. Kalau menguntungkan boleh, tapi kalau gak menguntungkan bagaimana?,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyebut adanya konten yang menampilkan dirinya berpidato dalam berbagai bahasa yang tidak pernah ia lakukan.
“Adalagi, saya pidato dalam bahasa mandarin. Yakan. Adalagi, saya pidato dalam bahasa arab. Karena waktu itu kampanye saya kira kalau di daerah-daerah tapal kuda mungkin ini menguntungkan jadi saya diem juga,” kata dia.
Karena fenomena tersebut, Presiden Prabowo mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi di era digital, serta menjadikan kritik sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati.
“Kalau menguntungkan kita diam. Tidak, ini saya mau sampaikan ini masalah bagi kita ya kita waspada nanti kita terima koreksi-koreksi itu kalau kita difitnah kalau kita dihujat anggaplah itu sebagai peringatan supaya kita waspada,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
