Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Tangerang
Nama Ade Yunus sudah tidak asing di kalangan aktivis dan pegiat lingkungan hidup. Pria yang akrab disapa Kang Aye ini telah mengabdikan dirinya sejak 2003 untuk menanam pohon dan membersihkan sampah di bantaran Kali Cisadane, Tangerang, Banten.
Ade Yunus bersama almarhum kakaknya, Uyus Setia Bhakti, mendirikan Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH) yang sejak awal fokus pada konservasi dan pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS).
Berbagai aksi penanaman pohon dan pembersihan sungai telah mereka lakukan, termasuk penanaman 1.000 pohon di Saluran Cisadane Barat pada tahun 2004, yang kini sudah membentuk kanopi rindang di lokasi tersebut.
Aktivitas mereka tak hanya sebatas aksi fisik, tapi juga edukasi perubahan perilaku masyarakat di sekitar bantaran sungai.
“Upaya konservasi bukan hanya membersihkan sampah, tapi mengajak semua pihak terlibat dengan kesadaran bersama untuk menjaga sungai,” ujar Ade Yunus.
Selain itu, mereka juga aktif melakukan advokasi terhadap industri yang diduga mencemari Sungai Cisadane dan Cirarab.
“Kalau kita biarkan pencemaran, kita turut terlibat dalam kejahatan lingkungan hidup. Oleh karena itu advokasi harus dilakukan,” tambah Ade.
Pada tahun 2012, kakaknya mendirikan Komunitas Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) yang kini telah bertransformasi menjadi Yayasan Banksasuci Foundation.
Organisasi ini meraih berbagai prestasi, termasuk juara pertama Komunitas Peduli Sungai tingkat Provinsi Banten, serta menjadi anggota Tim Koordinasi Sumber Daya Air di Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane.
Namun, Minggu 19 November 2023 menjadi hari duka bagi Banksasuci dan Ade Yunus. Uyus Setia Bhakti, sang pendiri sekaligus mentor Ade, meninggal dunia.
“Almarhum bukan hanya kakak, tapi juga panutan dan pahlawan lingkungan sejati, penjaga mata air tanpa air mata,” katanya
Meski berduka, Ade bertekad meneruskan perjuangan sang kakak.
“Insya Allah saya lanjutkan amanah beliau. Beliau selalu ingatkan, satu pohon yang kita tanam dan satu helai sampah yang kita bersihkan akan menjadi pemberat timbangan di akhirat nanti,” katanya lagi
Pada perayaan HUT ke-50 MUI, Ade berbagi pengalaman pentingnya kebersihan dalam Islam lewat diskusi bertajuk ‘Ngopi Bareng Kiyai’. Dalam diskusi itu, ia menjelaskan bahwa Islam menempatkan kebersihan sebagai dasar ibadah, dengan bab pertama fiqih membahas thaharah atau bersuci.
Karena kiprahnya tersebut, moderator acara memberi julukan padanya sebagai “Sunan Jaga Kali” sebuah gelar penghormatan atas dedikasi Ade menjaga sungai dan lingkungan sekitar.
Ade Yunus terus menginspirasi banyak pihak untuk peduli dan menjaga kelestarian alam, khususnya sungai yang menjadi sumber kehidupan.
Editor: Redaksi TVRINews
